Mandalay Utara (Riaunews.com) – Eskalasi perang saudara di Myanmar kian memburuk seiring meningkatnya intensitas serangan udara junta militer terhadap warga sipil. Pasukan junta dilaporkan memperketat penguasaan di kedua sisi Sungai Irrawaddy setelah berhasil merebut kembali kota Singu di Mandalay utara dari Pasukan Pertahanan Rakyat (PDF).
Keberhasilan merebut Singu diikuti dengan serangan udara yang menyasar warga sipil yang melarikan diri dari wilayah konflik. Berdasarkan laporan warga setempat, militer Myanmar mengerahkan sedikitnya lima unit tempur dengan dukungan jet pejuang untuk mengejar pasukan PDF yang mundur menyeberangi Sungai Irrawaddy menuju wilayah Sagaing.
Serangan tersebut secara sengaja menargetkan dermaga dan titik penyeberangan sungai. Pada 17 Desember 2025, lima jet tempur junta membombardir dua dermaga di kotapraja Khin-U, wilayah Sagaing, yang menewaskan tujuh orang dan melukai sedikitnya 15 lainnya. Seluruh korban merupakan warga sipil yang berupaya menyeberang sungai untuk menyelamatkan diri.
Junta militer bahkan merilis foto udara yang memperlihatkan serangan terhadap iring-iringan kendaraan warga sipil yang baru menyeberangi sungai menggunakan tongkang. Seorang sumber di lapangan menyebut serangan tersebut bertujuan memutus jalur pelarian warga dari sisi timur ke barat Sungai Irrawaddy.
Selain merebut Singu, militer Myanmar mengklaim telah menguasai kembali Jembatan Yadanar Thein Kha pada Senin pagi. Jembatan strategis itu menghubungkan wilayah Mandalay dengan kota Kyauk Myaung di Sagaing dan sebelumnya sempat dirusak pasukan PDF pada akhir Oktober untuk menghambat pergerakan junta.
Serangan balik besar-besaran junta yang juga merebut kota Thabeikkyin, Madaya, dan Patheingyi telah memicu pengungsian massal serta menimbulkan banyak korban di kalangan warga non-kombatan. Situasi keamanan di sepanjang Sungai Irrawaddy dilaporkan mencekam, sementara konflik bersenjata terus berlanjut sejak kudeta militer yang menggulingkan pemerintahan Aung San Suu Kyi pada Februari 2021.







Komentar