Jakarta (Riaunews.com) – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Da’wah dan Ukuwah, KH Cholil Nafis, menyoroti tragedi meninggalnya seorang pemuda di Masjid Agung Sibolga, Sumatra Utara. Ia menyebut peristiwa itu sebagai paradoks antara makna masjid sebagai rumah Allah dan tempat terjadinya kekerasan.
“Bagaimana seseorang bisa mendekatkan diri kepada Allah, tapi justru berbuat keji di rumah-Nya?” ujar Cholil kepada Pro 3 RRI, Senin (10/11/2025). Menurutnya, kejadian itu mencerminkan menurunnya pemahaman spiritual dan rasa kemanusiaan di tengah masyarakat.
Cholil menegaskan, masjid seharusnya menjadi ruang aman bagi seluruh umat untuk beribadah dan beristirahat. Ia menilai tragedi di Sibolga menjadi pengingat penting agar fungsi sosial dan spiritual masjid dikembalikan sebagaimana mestinya. “Masjid bukan hanya tempat sujud, tapi juga pusat peradaban dan kebersamaan umat,” katanya.
Ia juga menilai lemahnya pengelolaan takmir membuat sebagian jemaah bertindak sendiri tanpa dasar yang jelas. “Ketika masjid tak dikelola dengan baik, rasa curiga tumbuh dan tindakan spontan bisa melukai sesama,” ucapnya.
Cholil mengungkapkan bahwa MUI bersama Kementerian Agama tengah menyiapkan pedoman baru bagi takmir masjid di seluruh Indonesia. Pedoman ini bertujuan memastikan masjid tetap ramah bagi perempuan, anak-anak, dan masyarakat umum. “Masjid harus menjadi tempat yang sejuk dan melindungi siapa pun yang datang dengan niat baik,” ujarnya.
Ia berharap tragedi di Sibolga menjadi pelajaran bersama agar tidak terulang. “Masjid semestinya melahirkan ketenangan, bukan ketakutan. Dari sana, peradaban umat dibangun kembali,” tutup Cholil.







Komentar