Rida K. Liamsi: Visioner Pembaca Masa Depan Perkembangan Media

Sejarah sering kali baru memahami seorang visioner setelah waktu membuktikan gagasan-gagasannya. Begitulah sosok Rida K. Liamsi yang saya kenal. Lebih dari dua puluh lima tahun lalu, ketika internet masih dianggap barang mewah dan telepon genggam hanya digunakan untuk menelepon, ia telah berbicara tentang masa depan media digital. Hari ini, ketika seluruh prediksi itu menjadi kenyataan, saya merasa perlu membagikan sisi lain dari seorang mentor yang pernah membentuk cara berpikir saya.

Opini, Profil533 Dilihat

Oleh Syam Irfandi

 

Beberapa hari terakhir, nama Rida K. Liamsi kembali menjadi perbincangan publik. Di tengah sorotan itu, ingatan kolektif juga kembali tertuju pada kiprah panjangnya sebagai tokoh pers, sastra, dan kebudayaan Melayu yang memberi warna penting bagi perkembangan media di Riau dan Kepulauan Riau.

Berbagai pemberitaan yang berkembang hari ini tentu memiliki sudut pandangnya masing-masing. Namun bagi saya, sejarah seseorang tidak pernah ditentukan oleh satu peristiwa. Sejarah selalu mencatat lebih panjang daripada berita. Ia merekam bagaimana seseorang memulai langkahnya, bagaimana ia membangun, bagaimana ia menginspirasi, dan bagaimana gagasan-gagasannya tetap hidup bahkan ketika zaman telah berubah.

Saya mengenal Rida K. Liamsi bukan hanya melalui karya-karyanya atau berita tentang dirinya. Saya termasuk orang yang pernah merasakan langsung bagaimana beliau membimbing, mengarahkan, dan membentuk cara berpikir orang- orang yang bekerja bersamanya.

Yang paling saya ingat, beliau tidak hanya  memiliki kemampuan membangun puluhan perusahaan media hingga menjadi salah satu kelompok media terbesar di Sumatera, tapi juga sosok dengan pola fikir yang selalu memiliki ide inovasi beberapa langkah di depan zamannya.

Beliau bukan tipe pemimpin yang merasa puas dengan keberhasilan hari ini. Dalam banyak kesempatan, beliau selalu mengingatkan bahwa media adalah industri yang akan terus berubah. Karena itu, siapa pun yang bekerja di dalamnya tidak boleh berhenti belajar.

“Inovasi” adalah kata yang hampir selalu hadir dalam setiap diskusi. Beliau mendorong kami agar berani keluar dari zona nyaman, berani mencoba hal-hal baru, dan jangan pernah takut menghadapi perubahan teknologi.

Saat sebagian besar orang masih menikmati masa keemasan media cetak, beliau justru sudah berbicara mengenai masa depan.

Ada satu peristiwa yang hingga hari ini masih melekat kuat dalam ingatan saya.

Sekitar tahun 2000, beliau datang ke kantor saya. Di tengah obrolan santai, beliau tiba-tiba berkata,

“Suatu saat nanti, bukan lagi koran yang dibawa orang ketika masuk ke toilet saat berhajat, tetapi telepon genggam, karena pada masa itu, orang akan membaca berita melalui ponsel.”

Terus terang, saat itu saya hanya tersenyum.

Kalimat tersebut terdengar sangat sulit dibayangkan.

Pada masa itu, internet masih menjadi barang mewah. Telepon seluler hanya digunakan untuk menelepon dan mengirim SMS. Surat kabar sedang menikmati masa kejayaannya dengan oplah yang tinggi. Belum ada media sosial. Belum ada smartphone. Bahkan istilah media digital pun belum akrab di telinga masyarakat.

Namun beliau sudah melihat sesuatu yang belum mampu dilihat banyak orang.

Ucapan itu ternyata bukan satu-satunya pelajaran yang beliau berikan kepada saya tentang pentingnya membaca masa depan.

Sekitar tahun 2001, beliau kembali meminta saya membeli satu edisi Majalah SWA. Saya masih ingat bagaimana beliau meminta saya membaca sebuah artikel yang membahas inovasi dan perkembangan industri media melalui internet. Saya memang sudah lupa judul artikelnya, tetapi saya tidak pernah lupa pesan yang ingin beliau sampaikan.

Bahkan kala itu, beliau merogoh koceknya mengeluarkan uang dan memberikannya kepada saya sambil berkata “Jangan lupa yang tadi, beli Majalah SWA itu, pahami artikel yang saya sebutkan tadi,” ujarnya.

Beliau mengatakan bahwa perubahan besar sedang berlangsung. Internet bukan sekadar pelengkap, melainkan akan menjadi fondasi baru bagi industri media. Karena itu, wartawan dan pengelola media harus mulai memahami teknologi, bukan justru menghindarinya.

Saat itu akses internet masih sangat terbatas. Kecepatannya lambat, biaya koneksinya mahal, dan sebagian besar perusahaan media masih menganggap internet hanya sebagai media tambahan. Tetapi beliau justru melihatnya sebagai masa depan.

Kini saya menyadari, beliau sebenarnya tidak sedang meminta saya membaca sebuah artikel. Beliau sedang mengajarkan cara berpikir.

Beliau ingin kami belajar membaca tanda-tanda perubahan sebelum perubahan itu benar-benar datang.

Hari ini, lebih dari dua dekade kemudian, semua yang beliau bicarakan telah menjadi kenyataan.

Masyarakat membaca berita melalui layar telepon genggam. Media digital menjadi tulang punggung industri pers. Portal berita hadir selama 24 jam tanpa mengenal batas waktu cetak. Internet menjadi jalur utama distribusi informasi. Bahkan kini kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) mulai mengubah cara ruang redaksi bekerja dan bagaimana berita diproduksi.

Apa yang dahulu beliau lihat melalui sebuah artikel di Majalah SWA dan melalui pandangannya tentang telepon genggam, kini telah menjadi realitas yang kita jalani setiap hari.

Bagi saya, kemampuan membaca masa depan seperti itulah yang membedakan seorang pengelola media dengan seorang visioner.

Itulah sebabnya saya tidak pernah melihat beliau hanya sebagai wartawan, budayawan, penyair, atau pengusaha media. Saya melihatnya sebagai seorang pemikir yang mampu membaca arah perubahan jauh sebelum perubahan itu benar-benar terjadi.

Tidak dapat dipungkiri, dari tangan beliau lahir sebuah kelompok media yang menjadi rumah bagi ribuan insan pers. Banyak wartawan, editor, fotografer, penulis, dan pemimpin redaksi yang tumbuh dari ekosistem yang beliau bangun. Di luar dunia jurnalistik, dedikasinya terhadap sastra dan kebudayaan Melayu juga meninggalkan jejak yang sulit dipisahkan dari sejarah intelektual kawasan ini.

Kontribusi seperti itu tidak hilang begitu saja. Justru dari sanalah nama Rida K. Liamsi akan terus dikenang sebagai sosok yang bukan hanya membangun perusahaan media, tetapi juga membangun cara berpikir.

Hari ini mungkin publik sedang membaca berbagai pemberitaan tentang dirinya. Itu adalah bagian dari dinamika kehidupan yang akan dinilai oleh waktu dan sejarah.

Namun bagi saya, ada satu pelajaran yang tidak pernah berubah.

Seorang pemimpin sejati bukan hanya mampu menyelesaikan persoalan hari ini. Ia mampu melihat masa depan ketika orang lain masih sibuk menikmati hari ini.

Itulah Rida K. Liamsi yang saya kenal.

Dan setiap kali saya melihat orang-orang membaca berita melalui telepon genggam, atau menyaksikan ruang redaksi bertransformasi ke dunia digital, saya selalu teringat dua pelajaran yang beliau berikan lebih dari dua puluh lima tahun lalu: sebuah kalimat sederhana tentang berita yang akan dibaca melalui ponsel, dan sebuah artikel di Majalah SWA tentang masa depan media berbasis internet.

Waktu telah membuktikan bahwa keduanya bukan sekadar prediksi.

Keduanya adalah cara seorang visioner membaca masa depan, jauh sebelum masa depan itu benar-benar tiba.

Tentang Penulis

Syam Irfandi, atau lebih akrab dengan sapaan Pepen,  merupakan praktisi media dan teknologi informasi yang pernah berkarier di PT Megakarsa Buanalola, salah satu anak perusahaan Riau Pos Grup, sejak 1999 hingga 2003. Perusahaan tersebut mengelola MegaNet, salah satu pelopor Internet Service Provider (ISP) di Provinsi Riau pada masa awal perkembangan internet di Indonesia. Setelah operasional MegaNet berakhir, perusahaan menjalin kerja sama dengan D-Net sebagai bagian dari upaya menjaga layanan internet di wilayah Riau.

Selama berkarier di perusahaan tersebut, Syam Irfandi terlibat langsung dalam pengembangan layanan internet dan transformasi teknologi informasi, hingga dipercaya menduduki jabatan Manajer Operasional.

Pengalaman bekerja di lingkungan Riau Pos Grup memberikan kesempatan baginya untuk berinteraksi dan menerima arahan langsung dari Rida K. Liamsi. Pengalaman itulah yang menjadi dasar refleksi dalam tulisan ini, terutama mengenai pandangan visioner Rida K. Liamsi terhadap perkembangan teknologi informasi, internet, dan transformasi industri media yang jauh mendahului zamannya.

Komentar