Jakarta (Riaunews.com) – Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya menjaga keamanan pangan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar tidak menimbulkan risiko keracunan. Insiden keracunan yang sempat terjadi sebelumnya menjadi dorongan utama untuk memperkuat pengawasan di seluruh rantai produksi dan distribusi makanan.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, mengatakan pihaknya bekerja sama dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dalam memastikan makanan MBG memenuhi standar keamanan nasional. “BGN bersama BPOM telah menerapkan pengawasan berlapis mulai dari produksi, pengolahan, hingga distribusi agar kualitas makanan tetap terjaga,” ujarnya, Sabtu (20/9/2025).
BPOM sebelumnya berhasil menggagalkan distribusi sayuran basi yang hampir masuk ke jalur MBG. Kepala BPOM, Taruna Ikrar, menegaskan pengawasan dilakukan secara menyeluruh dengan sampling dan pengujian produk pangan, terutama saat terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) terkait keracunan.
Selain pengawasan, pemerintah juga memperkuat tata kelola melalui pelatihan bagi pelaku rantai pasok, pembaruan SOP, serta kerja sama lintas sektor dengan Kementerian Kesehatan, Kementerian Pertanian, dan pemerintah daerah. Tujuannya, setiap titik rantai produksi makanan MBG berada dalam standar keamanan pangan yang ketat.
Untuk menjaga keberlanjutan program, pemerintah memperkuat pasokan susu segar sebagai komponen utama MBG. Sebanyak 1.573 ekor sapi perah bunting didatangkan dari Australia pada Juni 2025, dengan target meningkatkan produktivitas susu lokal. Pemerintah juga membuka peluang impor sapi hidup dari Brasil untuk mendukung kebutuhan gizi masyarakat.
Melalui kolaborasi lintas lembaga dan penguatan sistem pengawasan, pemerintah bertekad menjadikan MBG sebagai program andalan yang tidak hanya meningkatkan kualitas gizi masyarakat, terutama anak-anak sekolah, tetapi juga aman dan bebas dari risiko keracunan.







Komentar