Pakar UWM: Era AI Dorong Perubahan Paradigma SDM ke Human Capability

Nasional, Sosial28 Dilihat

Yogyakarta (Riaunews.com) – Perkembangan pesat kecerdasan buatan (AI) dan otomatisasi mendorong perubahan mendasar dalam pengelolaan sumber daya manusia (SDM). Organisasi kini dituntut beralih dari paradigma lama yang memandang manusia sebagai “pusat biaya” menjadi pendekatan Human Capability yang menempatkan manusia sebagai pencipta nilai utama.

Dosen Program Studi Magister Manajemen Universitas Widya Mataram Yogyakarta, Dr. H. Yuswanto Hery Purnama, menegaskan bahwa manusia tidak lagi dapat direduksi sekadar sebagai faktor produksi di tengah kemajuan teknologi.

“Kita tidak boleh lagi mereduksi manusia hanya sebagai faktor produksi. Di era mesin kognitif ini, manusia adalah tujuan akhir pembangunan. Investasi pada kapasitas emosional dan kognitif bukan sekadar keputusan finansial, melainkan tindakan etis,” ujarnya di Kampus Terpadu UWM, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Soft Skills Jadi Kunci di Era AI

Yuswanto menjelaskan, tantangan utama saat ini adalah munculnya fenomena skills bottleneck, di mana kebutuhan keterampilan tidak lagi didominasi aspek teknis semata.

“Keterampilan yang paling dicari bukan hanya coding, tetapi juga empati, kepemimpinan, dan penalaran etis. Ini menjadi benteng manusia di tengah invasi AI,” tegasnya.

Di sisi lain, kesenjangan literasi digital masih menjadi pekerjaan rumah besar. Ia menyebut penetrasi internet di Indonesia masih terpusat di Pulau Jawa dengan angka mencapai 58,76 persen.

Pemerintah, lanjutnya, telah merespons melalui Peta Jalan Kecerdasan Artifisial Nasional 2025–2029 dengan pendekatan “Triple Readiness”, yang mencakup kesiapan teknis, penguatan soft skills, dan kesiapan memasuki pasar kerja.

Gotong Royong Jadi Solusi Adaptasi

Sebagai solusi khas Indonesia, Yuswanto menyoroti pentingnya nilai gotong royong dalam menghadapi disrupsi teknologi.

Menurutnya, budaya kolektif tersebut dapat membantu mengurangi technophobia atau kecemasan terhadap teknologi melalui pendampingan antarpekerja.

“Gotong royong terbukti efektif menekan kecemasan terhadap teknologi melalui sistem pendampingan sejawat antara pekerja senior dan junior,” tutupnya.

Komentar