Jakarta (Riaunews.com) – Indonesia tercatat sebagai negara dengan kasus Tuberkulosis (TBC) terbanyak kedua di dunia berdasarkan Global Tuberculosis Report (GTR) 2024. Kondisi tersebut mendorong pemerintah memperkuat kolaborasi lintas sektor guna mempercepat eliminasi TBC menuju target nasional tahun 2030.
Direktur Direktorat Dekonsentrasi Tugas Pembantuan dan Kerja Sama Kementerian Dalam Negeri, Elfin Elyas, menyebut GTR 2024 mencatat Indonesia memiliki sekitar 1.090.000 kasus baru TBC dengan angka kematian mencapai 125.000 orang per tahun. Pemerintah, kata dia, berkomitmen mengeliminasi TBC pada 2030 sebagaimana tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021.
Elfin menjelaskan, pengentasan TBC juga masuk dalam Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) atau Quick Win Presiden Republik Indonesia tahun 2025. Oleh karena itu, pemerintah mendorong percepatan dan inovasi dalam penemuan kasus, pengobatan, serta peningkatan kesadaran masyarakat.
Ia menegaskan upaya eliminasi TBC tidak bisa hanya mengandalkan sektor kesehatan. Pemerintah membutuhkan kolaborasi lintas kementerian, lembaga, dunia usaha, serta peran aktif masyarakat agar penanggulangan TBC berjalan efektif.
Saat ini, lanjut Elfin, notifikasi kasus TBC di Indonesia baru mencapai 62 persen atau sekitar 671.096 kasus. Rendahnya capaian tersebut dipengaruhi minimnya kesadaran masyarakat terhadap gejala TBC, belum optimalnya penemuan kasus aktif di sejumlah daerah, serta lemahnya kolaborasi multisektor.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Kementerian Kesehatan akan meluncurkan program Satu Gerakan Aksi Temukan TB (SATU TB). Program ini bertujuan menggerakkan seluruh pemangku kepentingan dalam penemuan kasus, edukasi, dan peningkatan kesadaran masyarakat, khususnya di provinsi dan kabupaten/kota dengan jumlah kasus TBC tertinggi di Indonesia.







Komentar