Cakupan Imunisasi Baduta Lengkap di Riau Capai 25,28 Persen, Rohul Tertinggi

Pekanbaru (Riaunews.com) – Capaian Imunisasi Baduta Lengkap (IBL) di Provinsi Riau terus menunjukkan peningkatan. Berdasarkan Dashboard Imunisasi Nasional per 26 Juni 2026, Riau menempati peringkat ke-12 nasional dengan cakupan 28.443 anak atau 25,28 persen dari sasaran.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Zulkifli, mengatakan Kabupaten Rokan Hulu menjadi daerah dengan capaian tertinggi, yakni 4.831 anak atau 40,31 persen. Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Kampar dengan 6.539 anak atau 39,33 persen, disusul Kota Pekanbaru 3.640 anak atau 24,45 persen, Kabupaten Rokan Hilir 2.628 anak atau 23,40 persen, dan Kabupaten Indragiri Hulu 1.639 anak atau 22,69 persen.

Selanjutnya, Kabupaten Pelalawan mencatat capaian 1.660 anak atau 21,03 persen, Kabupaten Kepulauan Meranti 597 anak atau 18,60 persen, Kota Dumai 981 anak atau 16,03 persen, Kabupaten Indragiri Hilir 1.523 anak atau 14,80 persen, serta Kabupaten Kuantan Singingi 777 anak atau 14,37 persen.

Zulkifli menjelaskan, Imunisasi Baduta Lengkap diberikan kepada anak usia 18 hingga 24 bulan melalui pemberian imunisasi lanjutan berupa DPT-HB-Hib booster dan MR booster. Menurutnya, program tersebut akan terus diperkuat agar seluruh bayi dan baduta di Riau memperoleh haknya mendapatkan imunisasi sesuai jadwal.

Ia juga mengimbau para orang tua untuk membawa anak ke fasilitas pelayanan kesehatan atau Posyandu apabila masih ada imunisasi yang belum lengkap. Menurutnya, imunisasi merupakan cara yang aman dan efektif untuk mencegah berbagai Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I), seperti campak, difteri, pertusis, tetanus, polio, dan hepatitis B.

Zulkifli menambahkan, cakupan imunisasi yang tinggi dan merata akan membentuk kekebalan kelompok (herd immunity), sehingga mampu melindungi seluruh anak dari risiko penularan penyakit. Ia mengingatkan bahwa anak yang tidak mendapatkan imunisasi memiliki risiko lebih tinggi mengalami infeksi, komplikasi berat, kecacatan permanen, bahkan kematian, serta berpotensi memicu Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit yang sebenarnya dapat dicegah.

Komentar