Kementan Minta Peternak Perketat Biosekuriti Cegah Demam Babi Afrika

Kesehatan, Nasional369 Dilihat

Jakarta (Riaunews.com) – Kementerian Pertanian (Kementan) meminta peternak babi di Indonesia meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman African Swine Fever (ASF) atau demam babi Afrika. Permintaan ini disampaikan menyusul adanya peningkatan kasus ASF di sejumlah negara di kawasan Asia Pasifik.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementan, Agung Suganda, mengatakan ASF merupakan penyakit yang sangat berbahaya bagi populasi babi. Karena itu, deteksi dini, pelaporan cepat, serta kolaborasi lintas pihak menjadi langkah penting dalam mencegah penyebarannya.

“Kami mendorong pemerintah daerah, petugas kesehatan hewan, dan peternak untuk meningkatkan kewaspadaan. Biosekuriti ketat adalah kunci pencegahan, dan setiap kasus mencurigakan harus segera dilaporkan melalui iSIKHNAS agar bisa ditangani cepat,” ujar Agung, Minggu (14/9/2025).

Agung menyebut Kementan telah menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor 8492 pada 19 Agustus 2025 tentang kewaspadaan dan kesiapsiagaan menghadapi peningkatan kasus ASF. Edaran ini ditujukan kepada dinas peternakan provinsi, kabupaten/kota, otoritas veteriner, asosiasi, hingga organisasi profesi dokter hewan.

Dalam SE tersebut, daerah diminta menyiapkan rencana aksi pengendalian dan mitigasi risiko. Di antaranya melakukan profiling peternak dan pedagang babi, memperketat pengawasan kesehatan ternak, menjalankan surveilans berbasis risiko, serta melaporkan gejala penyakit melalui sistem iSIKHNAS.

Direktur Kesehatan Hewan Ditjen PKH, Hendra Wibawa, menambahkan penggunaan data real-time menjadi kunci keberhasilan pengendalian ASF. “Tanpa data yang benar dan disiplin, kebijakan pengendalian tidak bisa tepat sasaran,” ujarnya. Saat ini, Indonesia masih melaporkan kasus ASF di sejumlah daerah, termasuk NTT, Lampung, Kalimantan Barat, Papua, dan Sumatera Utara.

Komentar