Pekanbaru (Riaunews.com) – Belakangan ini, isu child grooming kembali menjadi perhatian publik setelah disinggung dalam buku Broken Strings karya Aurélie Moeremans pada Jumat (9/1/2026). Fenomena ini menyoroti bentuk kekerasan seksual terhadap anak yang kerap terjadi secara tersembunyi, baik di dunia nyata maupun ruang digital, dengan modus manipulasi emosional.
Child grooming merupakan proses ketika pelaku membangun kedekatan emosional dengan anak atau remaja untuk tujuan eksploitasi seksual. Pelaku biasanya memberikan perhatian, kasih sayang, atau rasa aman palsu hingga korban merasa terikat secara emosional dan terpisah dari lingkungan sebayanya. Di Indonesia, praktik ini kerap disebut sebagai bentuk kejahatan seksual yang semakin berkembang, terutama seiring masifnya penggunaan media sosial.
Berdasarkan kajian National Society for the Prevention of Cruelty to Children (NSPCC), child grooming tidak mengenal batas usia pelaku dan dapat dilakukan oleh orang asing maupun orang terdekat korban. Modusnya pun beragam, mulai dari pertemuan langsung hingga melalui dunia maya yang dikenal sebagai cyber child grooming.
Secara umum, terdapat enam tahapan dalam praktik child grooming. Pelaku biasanya menargetkan anak yang terlihat kesepian atau kurang percaya diri, lalu membangun kepercayaan melalui perhatian intens atau hadiah. Setelah itu, hubungan dibuat semakin eksklusif dan rahasia, hingga akhirnya pelaku mulai mengenalkan unsur seksual dan melakukan manipulasi agar hubungan tetap terjaga.
Dampak child grooming sangat serius bagi korban. Mengacu pada jurnal Cyber Child Grooming sebagai Bentuk Kekerasan Berbasis Gender Online di Era Pandemi, korban berisiko mengalami gangguan psikologis seperti kecemasan, depresi, rasa takut berlebihan, hingga menarik diri dari lingkungan sosial. Kepercayaan diri anak juga dapat runtuh, baik dalam aktivitas offline maupun online.
Pencegahan menjadi kunci utama untuk memutus rantai kejahatan ini. Orang tua diimbau lebih peka terhadap perubahan perilaku anak serta membangun komunikasi yang terbuka dan penuh kepercayaan. Dengan hubungan yang hangat dan aman, anak akan lebih berani bercerita apabila menghadapi situasi mencurigakan, sehingga risiko child grooming dapat ditekan sejak dini.
