Pakar UGM Ingatkan Risiko Ketergantungan Gadget pada Anak

Gadget, Tekno105 Dilihat

Yogyakarta (Riaunews.com) – Anak yang terbiasa mengandalkan gadget dalam kehidupan sehari-hari berisiko menunjukkan reaksi emosional berlebihan saat penggunaannya dibatasi oleh orang tua. Kondisi ini kerap ditandai dengan tantrum, seperti menangis hingga tersedu-sedu ketika tidak diizinkan menggunakan perangkat tersebut.

Pakar Perkembangan Anak, Remaja, dan Pendidikan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, Novi Poespita Candra, mengatakan gejala tersebut menunjukkan adanya ketergantungan yang mulai terbentuk sejak dini.

“Ajak anak memiliki beragam aktivitas, mulai dari fisik, seni, sosial, hingga spiritual,” ujar Novi saat dihubungi di Jakarta, Minggu.

Aktivitas Alternatif Jadi Solusi

Novi menjelaskan, keterlibatan anak dalam aktivitas aktif dapat mengalihkan perhatian dari gadget sekaligus mendorong perkembangan sosial. Interaksi dengan lingkungan sekitar dinilai penting untuk membangun kemampuan emosional dan komunikasi anak.

Selain itu, orang tua perlu bersikap tegas dalam pengasuhan dan tidak menjadikan gadget sebagai alat untuk menenangkan anak, terutama saat mengalami tantrum.

Peran Orang Tua dan Aturan Pemerintah

Pemerintah telah mengatur pembatasan penggunaan gadget bagi anak melalui Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP TUNAS) yang mulai berlaku pada 28 Maret 2026.

Novi menyarankan orang tua menunda pengenalan gadget hingga anak berusia 13 tahun. Jika anak sudah terlanjur mengenal gadget, maka penggunaannya harus diatur secara bijak.

Ia juga menekankan pentingnya keteladanan orang tua dalam penggunaan gadget. “Anak berkembang dengan meniru. Orang tua harus menjadi role model, misalnya tidak memegang ponsel saat berinteraksi, serta mengajak anak melakukan berbagai aktivitas bersama,” tuturnya.