Seoul (Riaunews.com) – Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung menyatakan bahwa China telah menyamai, bahkan melampaui, Korea Selatan dalam hal teknologi dan modal di berbagai sektor. Menurut Lee, perkembangan pesat tersebut telah mengubah fondasi kerja sama ekonomi bilateral kedua negara yang selama ini terjalin.
Pernyataan itu disampaikan Lee dalam wawancara dengan China Media Group (CMG), dikutip Carnewschina, Sabtu (3/1/2026), menjelang kunjungan resminya ke China. Dalam lawatan tersebut, Lee akan memimpin delegasi yang terdiri atas sekitar 200 perwakilan perusahaan Korea Selatan, di tengah meningkatnya persaingan industri antara kedua negara.
Lee menjelaskan bahwa pada masa lalu, hubungan ekonomi China dan Korea Selatan bersifat vertikal. Korea Selatan berperan sebagai penyedia teknologi dan modal yang lebih maju, sementara China berkontribusi terutama melalui tenaga kerja. Namun, menurutnya, struktur tersebut kini tidak lagi relevan seiring kemajuan signifikan China.
Ia menilai, hubungan ekonomi ke depan perlu dibangun dengan pendekatan yang lebih setara dan horizontal. Lee menekankan pentingnya memperluas kolaborasi di sektor-sektor maju, seperti kecerdasan buatan (AI) dan industri berteknologi tinggi, yang kini semakin terintegrasi dengan manufaktur otomotif dan pengembangan perangkat lunak kendaraan.
Sektor otomotif menjadi salah satu cerminan perubahan dinamika tersebut. China saat ini tercatat sebagai produsen dan eksportir kendaraan energi baru terbesar di dunia. Sementara itu, Korea Selatan tetap mempertahankan posisinya sebagai pemain penting dalam industri otomotif global, khususnya di bidang elektronika daya dan rantai pasok baterai.
Dalam beberapa tahun terakhir, produsen mobil China terus memperluas ekspor dan penetrasi pasar internasional. Di sisi lain, produsen Korea Selatan masih bergantung pada China sebagai basis produksi sekaligus pasar utama bagi kendaraan dan komponen, termasuk dalam persaingan dan ketergantungan di sektor rantai pasok baterai kendaraan listrik.







Komentar