Beijing (Riaunews.com) – Pemerintah China mengambil langkah tegas menghentikan fenomena “perang harga” di industri otomotif domestik setelah penjualan kendaraan anjlok signifikan pada awal 2026.
Melalui pedoman terbaru yang dirilis Administrasi Negara untuk Regulasi Pasar (SAMR), produsen mobil dilarang menjual kendaraan di bawah biaya produksi guna menjaga stabilitas industri dan mencegah praktik monopoli pasar.
“Perusahaan besar kerap membanting harga untuk menyingkirkan pesaing yang lebih kecil atau lemah secara finansial,” tulis analisis Carscoops, Sabtu (14/2/2026).
Data Asosiasi Dealer Mobil China mencatat, perang harga telah menyebabkan kerugian produksi hingga 471 miliar yuan atau lebih dari Rp1.000 triliun dalam tiga tahun terakhir, menandakan industri mengalami tekanan finansial meski konsumen mendapat harga murah.
Memasuki awal 2026, penjualan mobil di China merosot 19,5 persen secara tahunan dan turun 36 persen secara bulanan dari 2,2 juta unit pada Desember 2025 menjadi 1,4 juta unit pada Januari 2026, menjadi alarm bagi pemerintah untuk melakukan intervensi.
Selain pengaturan harga, pemerintah juga memperketat aturan pembayaran kepada pemasok dengan mempercepat siklus pembayaran dari sebelumnya hingga 300 hari menjadi di bawah 60 hari, sehingga ruang produsen untuk memberikan diskon besar-besaran semakin terbatas.
Sejumlah produsen, termasuk BYD, mulai mengalihkan strategi dengan memperluas ekspor kendaraan listrik dan hibrida ke pasar global. Regulator menegaskan perusahaan yang melanggar aturan baru akan menghadapi risiko hukum serius.







Komentar