Bentrokan Perbatasan Thailand–Kamboja Makin Panas, Ratusan Ribu Warga Mengungsi

Phnom Penh (Riaunews.com) – Sekolah-sekolah di Thailand dan Kamboja ditutup akibat bentrokan perbatasan yang terus berlanjut. Konflik tersebut menewaskan sedikitnya 40 orang, termasuk 24 warga sipil, serta memaksa ratusan ribu penduduk mengungsi dari wilayah terdampak.

Kementerian Pendidikan Kamboja melaporkan sebanyak 1.039 sekolah di enam provinsi ditutup, mengganggu kegiatan belajar 242.881 siswa dan 9.797 guru. Kementerian Dalam Negeri Kamboja juga mencatat dua korban sipil tambahan, sehingga total warga sipil tewas di negara itu menjadi 15 orang, dengan 73 lainnya luka-luka.

Di Thailand, sembilan warga sipil dilaporkan tewas, sementara lebih dari 600 sekolah dan sejumlah rumah sakit terpaksa ditutup. Pemerintah Thailand telah mengajukan banding ke Kantor Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia PBB terkait dampak kemanusiaan konflik tersebut.

Sejak bentrokan meningkat pekan lalu, sekitar 700.000 orang mengungsi di kedua sisi perbatasan. Situasi ini memperparah kondisi kemanusiaan di wilayah sengketa yang sudah lama rawan kekerasan.

Sebelumnya, Thailand dan Kamboja menandatangani perjanjian damai di Kuala Lumpur pada Oktober lalu, yang disaksikan Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim. Namun, perjanjian itu ditangguhkan setelah sejumlah tentara Thailand cedera akibat ledakan ranjau darat di wilayah perbatasan.

Hingga kini, Thailand melaporkan total 16 tentara dan sembilan warga sipil tewas, sementara sekitar 18 tentara Kamboja masih ditahan. Upaya diplomasi internasional belum mampu menghentikan konflik, yang kembali memanas meski tekanan global terus meningkat.

Komentar