Padang (Riaunews.com) – Bencana hidrometeorologi kembali melanda wilayah Sumatera Barat. Kabupaten Agam menjadi daerah yang paling parah terdampak banjir bandang (galodo) yang terjadi sejak awal pekan. Berdasarkan pembaruan data resmi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Agam hingga Jumat (28/11/2025) pukul 20.00 WIB, tercatat sebanyak 74 orang meninggal dunia.
Kepala BPBD Kabupaten Agam, Rahmad Lasmono, menyampaikan bahwa angka tersebut merupakan hasil rekapitulasi terbaru dari Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops). Ia menegaskan bahwa proses pendataan masih berlangsung mengingat sejumlah wilayah masih sulit diakses. “Data korban meninggal saat ini mencapai 74 orang. Tim masih melakukan pendataan dan evakuasi lanjutan di lokasi terdampak,” ujarnya di Lubuk Basung.
Korban meninggal tersebar di berbagai kecamatan yang terdampak galodo parah, antara lain Malalak, Palembayan, Matur, Tanjung Raya, Palupuh, Koto Alam, Kampuang Tangah, dan Subarang Aia. BPBD menyebut sebagian korban masih dalam proses identifikasi karena kondisi lapangan yang menantang serta rusaknya sejumlah infrastruktur.
Selain jatuhnya korban jiwa, dampak banjir bandang ini juga membuat akses menuju Bukittinggi dari berbagai arah lumpuh total. Material banjir berupa lumpur, batu, dan potongan kayu menutup jalan utama sehingga menghambat proses evakuasi maupun distribusi bantuan. Petugas gabungan hingga kini masih berupaya membuka jalur yang tertutup.
Tim SAR, TNI-Polri, relawan, serta masyarakat terus melakukan pencarian korban hilang di sejumlah titik. Kondisi cuaca yang tidak menentu serta potensi banjir susulan menjadi tantangan tersendiri dalam proses penanganan di lapangan. Pemerintah daerah telah menetapkan status tanggap darurat untuk mempercepat penanganan bencana.
BPBD Agam mengimbau masyarakat di kawasan rawan agar tetap waspada terhadap potensi bencana lanjutan. “Kami meminta warga untuk segera mengungsi jika melihat tanda-tanda bahaya. Keselamatan jiwa adalah prioritas,” kata Rahmad. Pemerintah daerah juga mempercepat pendirian posko dan penyaluran bantuan kepada para penyintas.







Komentar