Oleh Reni Susanti, S.A.P
Krisis murid baru disejumlah SD Negeri menjadi perhatian publik. Krisis siswa baru dialami SD Negeri 1 Gedung Meneng, Kecamatan Rajabasa, Bandar Lampung pada tahun ajaran ini hanya menerima dua siswa baru. Mereka tetap disambut dengan semangat oleh guru pada hari pertama MPLS (13/7).
Sementara itu di Bengkulu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Rejang Lebong memperbolehkan sejumlah sekolah untuk tetap menerima murid bari kendati telah melewati batas waktu pelaksanaan SPMB TA. 2026/2027.
Disdikbud Rehang Lebong mencatat beberapa sekolah tingkat SMP yang masih kekurangan pendaftar seperti SMPN 30 Rejang Lebong hanya lima pendaftar, SMPN 38 Rejang Lebong dengan enam pendaftar, SMPN 40 Rejang Lebong dua pendaftar, dan SMPN 35 Rejang Lebong belum mendapat satupun calon peserta didik baru. (CNN Indonesia, 15/07/2026)
Krisis murid juga terjadi di sejumlah wilayah Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Beberapa sekolah dasar (SD) Negeri hanya menerima sedikit peserta didik, bahkan ada juga yang tidak mendapatkan murid baru untuk tahun ajaran 2026/2027.
Salah satunya SD Negeri 3 Blumbang, tidak menerima murid sama sekali. Selain itu, SD Negeri di Jawa tengah dan DIY hanya menerima segelintir siswa. Sekolah di Ibu Kota Provinsi seperti muridi SDN Purwoyoso 01 hanya mendapat tiga murid baru dan SDN Wonodri dengan lima murid baru.
Fenomena yang terjadi di berbagai daerah ini memunculkan pertanyaan mengenai penyebab di balik terus menyusutnya jumlah murid SD negeri. Menurut peneliti, fenomena yang terjadi di berbagai daerah itu bukan sekadar persoalan persaingan antarsekolah, tetapi juga mencerminkan perubahan struktur demografi. (Kompas.com, 15/07/2026)
Ketua DPR RI Puan Maharani turut menyorot hal ini dan mengingatkan agar pemerintah melakukan evaluasi. Puan menilai sekolah yang krisis murid menunjukkan sejumlah persoalan sekaligus. Di satu wilayah, penyebabnya bisa jadi penurunan jumlah anak usia sekolah. Di wilayah lain, persoalannya bisa jadi berkaitan dengan perpindahan penduduk, distribusi sekolah yang tidak lagi sesuai perkembangan permukiman, atau penurunan kepercayaan orang tua terhadap mutu dan karakter layanan sekolah negeri. (detik.com, 15/07/2026)
Penyebab Krisis Murid
Perubahan struktur demografi (penduduk menua) terjadi karena program pemerintah yang menjadikan jumlah kelahiran turun. Dalam sistem kehidupan sekuler kapitalis pemerintah tidak berperan dalam mengurusi rakyat. Kegagalan dalam kebijakan ekonomi membuat biaya hidup tinggi dan kesejahteraan sulit diraih sehingga pasangan muda enggan punya anak, bahkan memilih menunda menikah.
Urbanisasi marak karena kesenjangan pendapatan desa dan kota. Seharusnya pemerintah melihat persoalan ini lebih mendalam lagi.
Sikap orangtua lebih memilih sekolah yang mengajarkan agama dibandingkan sekolah negeri menunjukkan kekhawatiran besar terhadap kerusakan generasi hari ini akibat sistem sekuler liberal yang memproduksi berbagai kerusakan moral hingga tindak kriminal di kalangan anak sekolah. Meski perubahan kurikulum berulangkali terbukti tak mampu membendung kerusakan yang ditimbulkan oleh sistem sekuler liberal.
Pendidikan dalam Konstruksi Islam
Pemimpin dalam negara Islam berfungsi sebagai pelayan rakyat, mengurusi seluruh kebutuhan rakyat. Menjamin sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan, dan keamanan. Semua itu dilakukan murni karna kesadaran akan pertanggungjawabannya dihadapan Allah kelak. Bukan untuk keuntungan dan manfaat duniawi.
Islam memandang pendidikan adalah kebutuhan dasar yang harus didapatkan oleh rakyat dan pilar penting peradaban sehingga negara bertanggung jawab menjamin ketersediaan dan pemerataan pendidikan berkualitas dan gratis bagi seluruh rakyat. Rakyat tidak perlu menanggung beban mencari biaya pendidikan.
Sistem pendidikan Islam dalam institusi Khilafah menggunakan kurikulum berbasis akidah Islam untuk mewujudkan output pendidikan yang berkepribadian Islam dan mahir dalam iptek. Negara menyediakan SDM guru, infrastruktur, sarana dan prasarana untuk mendukung pendidikan berkualitas. Semua itu tentu saja sesuai dengan harapan para orangtua.
Kesadaran masyarakat harus dinaikkan dari level ingin menyelamatkan anaknya dari bahaya kerusakan menjadi kesadaran politik bahwa kerusakan yang ada adalah kerusakan sistemik akibat penerapan sistem sekuler liberal. Output pendidikan Islam mampu mewujudkan kesadaran tersebut bagi siswa/mahasiswa.
Dakwah politik untuk membangun kesadaran politik masyarakat sangat penting, hingga dapat menggerakkan masyarakat untuk merubah sistem sekuler liberal menjadi sistem Islam.







Komentar