BBKSDA Riau Perkuat Mitigasi Usai Tapir Mati Tertabrak di Koridor Logas Tanah Darat

Kuansing, Lingkungan26 Dilihat

Kuantan Singingi (Riaunews.com) – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau menegaskan pentingnya penguatan langkah mitigasi di kawasan yang berbatasan dengan habitat satwa liar setelah seekor tapir jantan dewasa ditemukan mati di jalan koridor Logas Tanah Darat, Kabupaten Kuantan Singingi. Insiden tersebut menjadi pengingat bahwa aktivitas transportasi dan pergerakan satwa liar perlu dikelola secara seimbang untuk mendukung upaya konservasi.

Kepala Bidang Teknis BBKSDA Riau, Ujang Holisudin, mengatakan kawasan koridor Logas Tanah Darat merupakan salah satu jalur lintasan alami tapir. Mamalia yang dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106 Tahun 2018 itu memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan Sumatera.

“Kawasan tersebut diketahui merupakan salah satu jalur lintasan alami tapir yang kerap terpantau bergerak,” jelas Ujang Holisudin dalam siaran persnya, Jumat (19/6/2026).

Mitigasi dan Kolaborasi Diperkuat

BBKSDA Riau menyebut perlindungan satwa liar tidak hanya dilakukan melalui penegakan hukum terhadap perburuan, tetapi juga dengan memperkuat langkah pencegahan untuk mengurangi potensi interaksi antara satwa dan kendaraan. Upaya tersebut meliputi pemasangan rambu peringatan satwa liar di titik rawan, mengimbau pengendara mengurangi kecepatan saat melintasi kawasan habitat, melakukan pemantauan keanekaragaman hayati secara berkala, serta memperkuat koordinasi dengan otoritas konservasi dalam menyusun langkah perlindungan yang lebih efektif.

Penanganan insiden ini juga melibatkan kolaborasi lintas instansi. BBKSDA Riau bersama Polsek Logas Tanah Darat, Balai Taman Nasional Tesso Nilo, dan pihak perusahaan melakukan evakuasi serta penguburan bangkai tapir sesuai prosedur untuk mencegah risiko penyebaran penyakit maupun zoonosis.

BBKSDA Riau mengimbau masyarakat, khususnya pengguna jalan dan para pemangku kepentingan, agar meningkatkan kewaspadaan saat melintasi kawasan yang menjadi jalur pergerakan satwa liar. Menurut BBKSDA, kesadaran bersama, langkah mitigasi yang konsisten, dan kolaborasi berkelanjutan menjadi kunci menjaga konektivitas habitat sekaligus mendukung kelestarian satwa dilindungi di bentang alam Sumatera.

Komentar