Ketua Umum Panitia Pacu Jalur 2025, Werry Ramadhana Putera, menyebut bahwa angka tersebut mengacu pada capaian tahun lalu yang mencatat kunjungan sekitar 1,5 juta orang. Dengan asumsi pengeluaran minimum Rp50.000 per pengunjung, kegiatan ini dinilai menjadi lokomotif ekonomi lokal.
“Hotel penuh selama lima hari. Ini momentum besar bagi pergerakan ekonomi masyarakat,” ujar Werry saat ditemui pada Senin (7/7/2025).
Ia juga menyoroti peran media sosial dalam mendongkrak popularitas event ini, termasuk fenomena viral seperti “aura farming” dari bocah SD Togak Luan, Rayyan Arkan Dikha, yang menjadi perhatian warganet hingga mancanegara.
Untuk menjadikan Pacu Jalur mandiri secara finansial, panitia menekankan pentingnya perbaikan infrastruktur, khususnya arena Tepian Narosa serta fasilitas penunjang seperti area UMKM, lahan parkir, dan MCK. Dari total anggaran sekitar Rp4 miliar, sebesar Rp1,5 miliar berasal dari APBD Kuansing. Sisanya akan diperoleh melalui sponsor dan dukungan hadiah dari APBD Provinsi Riau.
“Targetnya agar penonton bisa menikmati pacu jalur di siang hari dan hiburan di malam harinya. Tapi itu tergantung kecukupan dana sponsor,” jelas Werry.
Saat ini, panitia aktif menjajaki kerja sama dengan sponsor lokal dan nasional. Mereka menawarkan paket promosi yang menjangkau tidak hanya 1,5 juta penonton langsung, tetapi juga sekitar 100 ribu penonton online.
Meskipun Pacu Jalur telah masuk dalam Kalender Event Nasional (KEN) dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Werry menilai dukungan pemerintah pusat masih belum optimal. Finalisasi kerja sama sponsor ditargetkan rampung satu minggu sebelum pelaksanaan.
Sebagai perbandingan, pada 2024 lalu, penyelenggaraan Pacu Jalur menelan anggaran sekitar Rp3,6 miliar. Namun tahun ini, panitia optimistis kebutuhan dana akan terpenuhi, seiring dengan meningkatnya minat sponsor dan perhatian publik yang lebih luas terhadap salah satu event budaya terbesar di Sumatera itu
Komentar