Festival Perahu Baganduang Kuansing Diwarnai Insiden Ledakan Petasan, Tiga Pelajar Terluka

Budaya, Kuansing120 Dilihat

Kuantan Singingi (Riaunews.com) – Kemeriahan Festival Tradisi Perahu Baganduang di Tepian Muko Lobuah, Desa Banjar Padang, Kecamatan Kuantan Mudik, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, Kamis (26/3/2026), berubah menjadi insiden yang melukai tiga pelajar.

Ribuan petasan dan dentuman cagak meriam yang mewarnai arak-arakan perahu hias sempat membuat suasana meriah, bahkan hingga mengganggu jalannya prosesi seremonial yang dihadiri Bupati Kuansing Suhardiman Amby bersama unsur Forkopimda.

Insiden Ledakan Petasan

Di tengah kemeriahan, tiga pelajar MTs Kuantan Mudik berinisial A, D, dan F mengalami luka serius akibat petasan yang meledak di tangan mereka. Peristiwa terjadi saat ketiganya berada di bagian depan perahu dan memegang petasan berukuran besar.

Ledakan tersebut bukan berasal dari pihak lain, melainkan dari petasan yang mereka pegang sendiri.

Korban F mengalami luka paling parah, dengan empat jari tangan kanannya putus dan hanya menyisakan jari telunjuk. Ia langsung dilarikan ke RSUD Teluk Kuantan untuk mendapatkan penanganan intensif.

Tradisi dan Antusiasme Warga

Sejak siang hari, ribuan masyarakat telah memadati lokasi untuk menyaksikan tradisi manjopuik limau dan Perahu Baganduang yang rutin digelar setiap tahun usai Idulfitri.

Tradisi ini dikenal sebagai salah satu warisan budaya masyarakat Kuantan Mudik, yang biasanya dimeriahkan dengan arak-arakan perahu dan berbagai atraksi khas.

Imbauan dan Evaluasi

Bupati Kuansing Suhardiman Amby tetap mengapresiasi masyarakat yang menjaga kelestarian tradisi tersebut, namun insiden ini menjadi catatan penting untuk evaluasi ke depan.

Sementara itu, pemangku adat setempat, Hardimansyah, menegaskan bahwa dalam tradisi aslinya tidak melibatkan anak-anak dalam penggunaan petasan. Biasanya, atraksi dilakukan oleh orang dewasa dengan menggunakan alat tradisional seperti bodial buluah.

Peristiwa ini diharapkan menjadi perhatian bersama agar pelaksanaan tradisi tetap aman tanpa mengurangi nilai budaya yang diwariskan turun-temurun.

Komentar