Jenewa (Riaunews.com) – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan kondisi kemanusiaan di Jalur Gaza terus memburuk dan tidak akan mengalami perubahan signifikan tanpa pembukaan penuh seluruh penyeberangan untuk pengiriman bantuan. PBB menilai pembukaan penyeberangan Rafah yang hanya mengizinkan pergerakan orang belum cukup untuk mengatasi krisis.
Melansir WAFA News Agency, Sabtu (7/2/2026), PBB menyatakan pasokan bantuan kemanusiaan masih tertahan di Mesir dan Yordania akibat pembatasan yang diberlakukan Israel sejak Maret 2025. Tanpa akses masuk bantuan, penderitaan warga Gaza disebut akan terus berlanjut.
Juru bicara UNRWA, Jonathan Fowler, mengatakan mengizinkan perlintasan orang tanpa membuka jalur bantuan tidak meringankan krisis. Ia menilai penghalangan distribusi bantuan menjadi salah satu faktor utama memburuknya situasi kemanusiaan di wilayah tersebut.
Fowler menyebut perbaikan kondisi selama musim panas 2025 sangat terbatas dan tidak sebanding dengan tingkat kehancuran yang terjadi. Ia menyebut krisis di Gaza sebagai bencana kemanusiaan buatan manusia, dengan dampak paling parah dirasakan anak-anak yang menghadapi kelaparan akut.
Selain krisis pangan, Gaza juga mengalami kekurangan pasokan medis, wabah penyakit, serta runtuhnya sistem air dan sanitasi. Kondisi tersebut diperparah oleh minimnya bahan tempat tinggal bagi warga yang terdampak konflik.
PBB memperkirakan sedikitnya 600 truk bantuan per hari dibutuhkan untuk menopang kehidupan penduduk Gaza. Fowler menegaskan bahwa pembatasan jenis bantuan, jam operasional penyeberangan, serta larangan terhadap aktivitas UNRWA akan membuat krisis kemanusiaan terus berlarut.







Komentar