Isra Mikraj dan Batas Sains: Mukjizat di Luar Jangkauan Logika Manusia

Sains, Seputar Islam167 Dilihat

Surabaya (Riaunews.com) – Isra Mikraj merupakan salah satu peristiwa paling agung dalam sejarah Islam, ketika Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem, lalu dinaikkan hingga Sidratul Muntaha. Seluruh rangkaian perjalanan luar biasa itu diyakini berlangsung hanya dalam satu malam, meski jarak dan tahapannya melampaui kemampuan manusia pada zamannya.

Dari sudut pandang logika modern, peristiwa ini kerap memunculkan pertanyaan. Bagaimana mungkin perjalanan ribuan kilometer, bahkan menembus langit, dapat ditempuh dalam waktu sangat singkat, sementara teknologi transportasi cepat belum ada? Pertanyaan tersebut kemudian sering dikaitkan dengan teori fisika modern, khususnya relativitas.

Dalam penjelasan yang dimuat di situs resmi Muhammadiyah, Guru Besar Fisika Institut Teknologi Surabaya (ITS) Agus Purwanto menegaskan bahwa Isra Mikraj tidak bisa dijelaskan menggunakan teori relativitas khusus Albert Einstein. Teori ini menjelaskan bahwa mendekati kecepatan cahaya akan membutuhkan energi luar biasa besar dan menyebabkan waktu melambat secara ekstrem.

Menurut Agus, jika perjalanan Isra Mikraj diasumsikan mengikuti relativitas khusus dan bergerak secepat cahaya, Rasulullah SAW seharusnya melesat sangat jauh hingga keluar dari tata surya. Bahkan, dalam satu jam saja, jarak yang ditempuh bisa setara jarak bumi ke Neptunus. Selain itu, hukum fisika menyebutkan massa benda akan hancur akibat energi yang terlalu besar pada kecepatan tersebut.

Ia menilai teori relativitas umum sedikit lebih relevan karena membahas kelengkungan ruang dan waktu akibat gravitasi serta kemungkinan dimensi ruang yang tidak sepenuhnya dipahami manusia. Namun demikian, teori ini pun belum mampu menjelaskan Isra Mikraj secara konkret dan ilmiah.

Pada akhirnya, Isra Mikraj dipahami bukan sebagai perjalanan fisik biasa atau perjalanan antariksa, melainkan mukjizat sekaligus peristiwa spiritual. Dalam keimanan Islam, Isra Mikraj diyakini sepenuhnya terjadi atas kehendak Allah SWT, melampaui batas nalar dan hukum fisika yang dikenal manusia.

Komentar