Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau melalui Dinas Kesehatan merilis Laporan Hasil Penyelenggaraan Kesehatan Haji Tahun 1447 Hijriah/2026 Masehi. Dari 5.971 calon jemaah sasaran, sebanyak 4.636 jemaah asal Riau berhasil diberangkatkan ke Tanah Suci melalui kuota 4.656 orang yang terbagi dalam 10 kloter penuh dan satu kloter gabungan bersama Provinsi Kalimantan Barat.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Zulkifli, mengatakan pelaksanaan pelayanan kesehatan haji tahun ini berjalan dengan baik. Seluruh jemaah yang diberangkatkan telah menjalani pemeriksaan kesehatan dengan capaian 86,46 persen dari sasaran pada Sistem Komputerisasi Haji Terpadu Bidang Kesehatan (Siskohatkes).
“Pemeriksaan kesehatan jemaah mencapai 86,46 persen dari sasaran pada Siskohatkes. Meskipun begitu, tetap perlu adanya evaluasi untuk peningkatan kualitas layanan kesehatan haji ke depan,” kata Zulkifli, Selasa (28/7/2026).
Ia menjelaskan, capaian layanan kesehatan juga mencakup vaksinasi wajib meningitis, polio, dan COVID-19 yang mencapai 100 persen bagi seluruh jemaah yang diberangkatkan. Sementara pembinaan kesehatan mencapai 80 persen atau sesuai target nasional. Namun, sebanyak 65,49 persen jemaah haji Riau masuk kategori risiko tinggi (risti), didominasi lansia dan penderita penyakit kronis yang memerlukan pemantauan intensif selama di embarkasi maupun di Arab Saudi.
Selain itu, Dinas Kesehatan mencatat tujuh jemaah haji asal Riau meninggal dunia di Arab Saudi, terdiri atas tiga laki-laki dan empat perempuan. Tiga jemaah meninggal pada masa pra-Armuzna, sedangkan empat lainnya pada masa pasca-Armuzna. Penyebab kematian didominasi penyakit kardiovaskular dan komplikasi penyakit berat. Para jemaah yang meninggal berasal dari Kabupaten Kampar sebanyak tiga orang, Kota Pekanbaru dua orang, Kabupaten Bengkalis satu orang, dan Kabupaten Kuantan Singingi satu orang.
Evaluasi dan Inovasi Pelayanan Kesehatan Haji
Zulkifli mengungkapkan terdapat enam kendala utama selama penyelenggaraan kesehatan haji 2026, yakni ketidaksesuaian data Siskohatkes, tingginya jumlah jemaah risiko tinggi, keterbatasan logistik kesehatan, minimnya jumlah tenaga kesehatan, koordinasi layanan di Arab Saudi yang belum optimal, serta penempatan kloter gabungan yang menyulitkan pemantauan kesehatan jemaah.
Untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut, Tenaga Kesehatan Haji (TKH) Provinsi Riau menerapkan sejumlah inovasi selama bertugas di Arab Saudi. Inovasi tersebut meliputi program One Day One Monitoring bagi jemaah risiko tinggi, kartu monitoring kesehatan, pengingat minum obat dan hidrasi, edukasi kesehatan berbasis kelompok, skrining sebelum aktivitas berat, koordinasi melalui grup komunikasi digital, pendampingan khusus bagi lansia dan penyandang disabilitas, serta pemetaan jemaah risiko tinggi berdasarkan lokasi hotel.
“Inovasi tersebut mendukung peningkatan kualitas pelayanan kesehatan jemaah haji, khususnya dalam deteksi dini, pencegahan komplikasi penyakit, serta percepatan penanganan kasus di Arab Saudi,” ujar Zulkifli.
Dinas Kesehatan Provinsi Riau berharap hasil evaluasi tersebut menjadi dasar perbaikan penyelenggaraan kesehatan haji pada musim berikutnya sehingga pelayanan terhadap jemaah dapat semakin optimal, aman, dan berkualitas.







Komentar