Jeddah (Riaunews.com) – Reli Arab Saudi yang debut sebagai putaran final WRC menuai kritik tajam dari para pereli. Meski menawarkan pemandangan spektakuler dan tantangan unik, banyak pembalap menilai rute reli ini terlalu ekstrem untuk mobil WRC dan ban yang digunakan.
Reli yang digelar di Jeddah itu menampilkan kombinasi gurun pasir dan jalur berbatu yang disebut jauh lebih keras dibanding karakter reli lain di kalender WRC. Dampaknya langsung terasa: seluruh kru Rally1 mengalami kerusakan ban, termasuk Ott Tanak yang mengalami empat kali puncture hanya dalam tiga etape pada hari pertama.
Juara dunia Sebastien Ogier menilai kondisi lintasan tidak memberikan kesempatan adil bagi performa mobil maupun ban Hankook. Ia menegaskan reli dengan risiko kerusakan setinggi itu tidak ideal menjadi ajang penentu gelar. “Reli ini sangat ekstrem dan jalanannya harus dipersiapkan lebih baik agar ban bisa bertahan,” ujar Ogier.
Keluhan serupa datang dari Kalle Rovanpera yang menyebut tahapan buatan manusia di Arab Saudi terlalu agresif dan tidak cocok untuk spesifikasi mobil serta ban WRC saat ini. Tingkat kerusakan ban yang dialami seluruh tim disebut sebagai indikator bahwa rute perlu evaluasi besar.
Thierry Neuville dari Hyundai mengakui reli ini menarik secara visual, namun menilai tingkat ekstremnya tidak cocok untuk posisi sebagai seri penutup. Ia menyarankan reli tersebut dipindah ke awal musim agar tidak menentukan gelar juara hanya karena masalah teknis akibat kondisi lintasan yang keras.
Pihak tim juga mengakui beberapa keunggulan penyelenggaraan, namun menilai banyak bagian lintasan harus diperkuat. Prinsipal M-Sport Ford, Rich Millener, menyebut perbaikan pada kualitas permukaan jalur menjadi prioritas agar reli tetap menantang tanpa merusak mobil secara berlebihan.







Komentar