Gaza (Riaunews.com) – Situasi kemanusiaan di Jalur Gaza terus memburuk meski gencatan senjata antara Israel dan Hamas telah diberlakukan sejak 10 Oktober. Lima puluh hari setelah penghentian sementara pertempuran, sebagian besar dari sekitar 2 juta penduduk masih tinggal di tenda dan tempat penampungan sementara, sementara kerusakan infrastruktur dan layanan dasar belum menunjukkan perbaikan berarti.
Union of Municipalities di Jalur Gaza memperingatkan bahwa krisis bahan bakar semakin melumpuhkan layanan esensial. Wakil presiden lembaga itu, Alaa al-Din al-Batta, mengatakan pemerintah kota hanya menerima pasokan bahan bakar yang cukup untuk lima hari kerja, sehingga menghambat pembersihan jalan, pemindahan puing, serta pelayanan bagi keluarga pengungsi. Ia mendesak pengiriman generator, sistem tenaga surya, suku cadang, dan peralatan berat untuk mencegah terhentinya operasi kemanusiaan.
Krisis juga meluas ke sektor kesehatan, yang masih bekerja dengan sumber daya terbatas seperti saat perang berlangsung. Direktur bantuan medis Gaza, Bassam Zaqout, menyebut rumah sakit kekurangan obat-obatan dan peralatan medis dasar, sementara pembatasan Israel terhadap delegasi medis memperburuk minimnya tenaga kesehatan. Otoritas kesehatan memperingatkan bahwa layanan spesialis mata terancam berhenti dan sekitar 4.000 pasien glaukoma berisiko kehilangan penglihatan tanpa pasokan darurat.
Di tengah krisis, kekerasan kembali meningkat dengan laporan serangan artileri dan penembakan oleh pasukan Israel di Gaza tengah dan selatan. Pejabat kesehatan melaporkan sedikitnya tiga orang tewas dalam 24 jam terakhir, sehingga total korban sejak gencatan senjata 10 Oktober mencapai 357 orang, dengan 908 lainnya luka-luka. Sejak 7 Oktober 2023, jumlah korban tewas dilaporkan mencapai 70.103 orang dan 170.985 lainnya mengalami luka-luka.
Kantor media pemerintah Gaza yang dikelola Hamas menuduh Israel melakukan 591 pelanggaran gencatan senjata, termasuk serangan artileri, penembakan, dan perusakan infrastruktur. Mereka menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran hukum humaniter internasional dan menyerukan campur tangan Amerika Serikat, mediator regional, serta Dewan Keamanan PBB.
Otoritas Pertahanan Sipil Gaza menyebut sekitar 10.000 jenazah masih terkubur di bawah reruntuhan rumah yang hancur, tetapi jumlah pastinya belum dapat dipastikan karena minimnya peralatan. Juru bicara lembaga itu, Mahmoud Basal, mengatakan hanya satu ekskavator yang berhasil masuk ke Gaza sejauh ini, jumlah yang sangat kecil untuk menyelesaikan evakuasi. Ia meminta tambahan peralatan berat agar proses penemuan dan pemindahan jenazah dapat dilakukan lebih cepat dan aman.







Komentar