Sibolga (Riaunews.com) – Bencana alam beruntun berupa banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat memicu gejolak ekonomi di Pekanbaru, Riau. Gangguan distribusi akibat rusaknya jalur logistik membuat harga sejumlah komoditas pangan pokok melonjak tajam sejak awal pekan. Kenaikan paling drastis terjadi pada cabai merah yang kini menembus Rp180.000 per kilogram.
Lonjakan harga itu menambah beban rumah tangga yang selama ini bergantung pada pasokan cabai dari Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Elise Citrawati, warga Panam, Pekanbaru, mengungkapkan kekhawatirannya dengan kenaikan tersebut. Ia menyebut harga cabai merah dari Sumbar naik hingga Rp180.000 per kilogram, jauh di atas harga normal. Kondisi ini membuat pengeluaran dapur meningkat signifikan.
Tak hanya cabai, sejumlah komoditas lain juga mengalami kenaikan meski tidak sefantastis cabai merah. Harga telur ayam naik dari Rp52.000 menjadi Rp56.000 per papan. Warga turut merasakan dampaknya, termasuk Rini yang menyebut kenaikan harga sayuran, daging, dan telur masih dalam batas wajar, sementara cabai menjadi komoditas yang paling melonjak.
Bencana yang memicu terganggunya distribusi pangan ini terjadi sejak Senin (24/11/2025). Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Jumat (28/11/2025) mencatat setidaknya 116 orang meninggal dunia di Sumatera Utara akibat banjir bandang dan longsor. Ribuan warga juga mengungsi, sementara akses jalan dan suplai logistik terputus.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bencana tersebut dipicu oleh Siklon Tropis Senyar, fenomena cuaca ekstrem yang terbentuk dari Bibit Siklon 95B di Selat Malaka. Siklon ini menyebabkan hujan lebat di Aceh dan Sumatera Utara dan menyebarkan hujan sedang hingga lebat ke Sumatera Barat dan Riau.
Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani, menyatakan bahwa Senyar merupakan fenomena langka di perairan Selat Malaka. Siklon ini memiliki karakteristik serupa dengan Siklon Vamei pada 2001 yang juga terbentuk di lintang sangat rendah dekat khatulistiwa. Fenomena tersebut memperburuk cuaca di wilayah Sumatra dan memicu bencana yang berdampak pada ketahanan pasokan pangan di Riau.







Komentar