Dapur Umum Gaza Masih Kekurangan Bahan Pokok Meski Gencatan Senjata Berlangsung

Internasional135 Dilihat

Gaza (Riaunews.com) – Dapur umum di Gaza masih menghadapi kekurangan bahan pokok meskipun gencatan senjata telah berlangsung selama beberapa minggu. Anera, organisasi kemanusiaan asal Amerika, membuka dapur komunitas ini sejak enam minggu lalu saat gencatan dimulai. Organisasi tersebut juga mengoperasikan dapur serupa di al-Mawasi, Gaza selatan, setelah stok makanan sempat menipis akibat dua bulan blokade ketat Israel.

Seiring mulai diperbolehkannya lebih banyak bahan pangan masuk, situasi sedikit membaik. Namun kebutuhan tetap sangat besar. Setiap hari, Anera menyediakan makanan panas bagi lebih dari 20.000 orang, memasak hingga 120 panci untuk para pengungsi. Jumlah keluarga yang dilayani melonjak dari 900 menjadi lebih dari 4.000 keluarga. Meski demikian, akses makanan tetap menjadi masalah serius sejak perang pecah pada Oktober 2023.

Pembatasan Israel memperburuk krisis kemanusiaan dan memicu kelaparan yang pertama kali dikonfirmasi di Kota Gaza. PBB terus mendesak agar lebih banyak bantuan dapat masuk. Anera hanya mampu memasak tiga jenis hidangan dalam seminggu dan berusaha menambah sayuran untuk memperbaiki nilai gizi. Daging dan ayam dilarang masuk sebagai bantuan, sehingga satu-satunya hidangan daging yang pernah disajikan berasal dari makanan kaleng.

Dapur umum juga menghadapi kekurangan peralatan memasak, kemasan makanan, hingga tabung gas. Meski sedikit bahan bakar kini diizinkan masuk, truk kecil baru bisa mengantarkan makanan ke kamp-kamp pengungsi dalam jumlah terbatas. Selama sepekan terakhir, jaringan dapur bantuan di seluruh Gaza mendistribusikan hingga 1,4 juta porsi makanan per hari.

Sebagian besar keluarga yang terdaftar adalah warga yang kehilangan rumah dan tidak memiliki uang. Banyak dari mereka kini hanya makan sekali sehari karena keterbatasan bahan makanan dan minimnya uang tunai. Kondisi cuaca dingin dan basah memperburuk keadaan para pengungsi yang tinggal di tenda-tenda darurat.

Di tengah ketidakpastian politik setelah Dewan Keamanan PBB menyetujui rencana Trump untuk Gaza, warga hanya berharap gencatan senjata bertahan lama. Harapan mereka sederhana: tempat yang aman untuk hidup dan makanan panas yang bisa disajikan untuk anak-anak mereka.

Komentar