Mencekam! 132 Orang Tewas dalam Operasi Perang Anti Kartel Narkoba Polisi Brasil

Internasional353 Dilihat

Rio de Janeiro (Riaunews.com) – Kota Rio de Janeiro, Brasil, menjadi sorotan dunia setelah operasi besar-besaran polisi untuk menumpas geng narkoba Comando Vermelho (Red Command) berujung pertumpahan darah. Sedikitnya 132 orang tewas, termasuk anggota geng dan aparat keamanan yang gugur.

Operasi dilancarkan pada Selasa (28/10/2025) dini hari, menargetkan dua kawasan favela padat penduduk — Complexo da Penha dan Complexo do Alemão, yang dikenal sebagai basis jaringan narkoba. Sebanyak 2.500 aparat bersenjata lengkap, termasuk militer, diterjunkan bersama dua helikopter, 32 kendaraan lapis baja, dan 12 alat pembongkar untuk menghancurkan barikade geng.

Baku tembak pecah ketika aparat diserang balik. Sekolah, universitas, dan akses jalan di sekitar lokasi langsung ditutup guna menghindari korban sipil. Polisi menyebut operasi itu ditujukan untuk membendung pengaruh Comando Vermelho, geng narkoba terbesar dan tertua di Brasil yang lahir dari penjara Rio pada 1970-an dan kini menguasai perdagangan narkoba lintas negara bagian.

Sehari setelah operasi, pemandangan memilukan terjadi: puluhan jenazah tergeletak di tepi jalan, sementara warga menuntut penjelasan dari pemerintah. Namun aksi tersebut segera dibubarkan saat tim forensik datang mengevakuasi korban.

Situasi memanas setelah Pemerintah Federal Brasil mengaku tidak diberi tahu mengenai operasi tersebut. Menteri Kehakiman Ricardo Lewandowski menyebut Presiden Luiz Inácio Lula da Silva terkejut mengetahui jumlah korban.

Sebaliknya, Gubernur Rio Claudio Castro mengklaim operasi itu sukses, dengan hasil penyitaan 118 senjata dan satu ton narkoba. Ia menegaskan operasi akan berlanjut, meski warga melaporkan jumlah korban jauh lebih tinggi dari data resmi yang mencatat 64 orang tewas.

Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia menyatakan keprihatinannya atas “penggunaan kekuatan ekstrem oleh aparat di komunitas miskin Brasil.” Menyusul tekanan internasional, Hakim Agung Alexandre de Moraes memerintahkan Gubernur Castro dan kepala kepolisian menghadiri sidang pada Senin (3/11/2025) untuk memberikan penjelasan resmi.

Aroma politik, keamanan, dan kemanusiaan kini bercampur di Rio. Operasi yang diklaim sebagai langkah pemberantasan narkoba justru dikhawatirkan membuka babak baru kekerasan di Brasil.

Komentar