Media Asing Soroti Kasus Keracunan Massal Program MBG

Jakarta (Riaunews.com) – Kasus keracunan massal yang terjadi akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini mendapat perhatian media internasional. Program andalan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto itu sejatinya bertujuan menyediakan makanan sehat dan bergizi bagi anak sekolah serta kelompok masyarakat tertentu untuk mencegah stunting dan meningkatkan kesehatan generasi muda.

Namun, dalam sepekan terakhir lebih dari 800 siswa dilaporkan keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program tersebut. Reuters pada Sabtu (20/9/2025) menurunkan laporan berjudul “Over 800 Indonesian students suffer mass food poisoning from government free meals”. Media itu menyebut sejak MBG diluncurkan Januari hingga Agustus, lebih dari 4.000 anak mengalami keracunan makanan, menurut data Institute for Development of Economics and Finance (Indef).

Kasus terbesar terjadi di Kabupaten Garut, Jawa Barat, ketika 569 siswa dari lima sekolah mengalami mual dan muntah setelah menyantap ayam dan nasi yang disediakan oleh dapur penyedia MBG. Peristiwa serupa juga dilaporkan di Kepulauan Banggai, Sulawesi Tengah, dengan 277 siswa terdampak. Akibatnya, distribusi makanan di wilayah tersebut dihentikan sementara.

Menanggapi hal ini, Deputi Bidang Pemenuhan Gizi Nasional, Prasetyo Hadi, memastikan pemerintah tetap melanjutkan MBG dengan evaluasi menyeluruh bersama Badan Gizi Nasional (BGN) dan pemerintah daerah. “Tentunya kami memohon maaf karena telah terjadi kembali beberapa kasus di beberapa daerah. Itu bukan sesuatu yang kita harapkan dan bukan kesengajaan,” ujar Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (19/9/2025).

Ia menegaskan akan ada sanksi bagi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang terbukti lalai. Untuk sementara, menu siswa di beberapa daerah akan diganti dengan makanan lebih sederhana seperti roti, susu, telur rebus, dan buah.

Reuters menyoroti bahwa berulangnya kasus keracunan ini memunculkan pertanyaan mengenai pengawasan dapur penyedia MBG dan sistem distribusi makanan di lapangan.

Komentar