Dilema BBM di Tengah Gejolak Global dan Ketergantungan Impor

Oleh Sri Lestari ST

Bahan bakar minyak (BBM) menjadi kebutuhan mendasar dalam memenuhi kebutuhan hidup. BBM bagaikan jantung kehidupan. bagaimana tidak, pendistribusian bahan-bahan kebutuhan pokok dan kebutuhan lainnya tidak lepas dari penggunaan BBM. Isu kenaikan BBM menjadi hal yang sangat dikhawatirkan oleh masyarakat. Disaat harga BBM belum mengalami kenaikan harga kebutuhan pokok sudah melambung tinggi. Tidak terbayangkan jika harga BBM mengalami kenaikan, masyarakat akan semakin menjerit.

Sepanjang periode Februari hingga Maret 2026, sejumlah BBM nonsubsidi mengalami penyesuaian harga. Produk RON 92 naik dari Rp11.800 menjadi Rp12.300 per liter, sementara RON 95 meningkat dari Rp12.450 menjadi Rp12.900. Adapun varian beroktan lebih tinggi juga mengalami kenaikan ke kisaran Rp13.100 per liter. Harga BBM non subsidi mengalami kenaikan karena mengacu pada tren harga minyak global, terutama indikator Mean of Platts Singapore (MOPS) dan Argus, serta mempertimbangkan nilai tukar rupiah dan komponen pajak sesuai regulasi pemerintah. Konflik antara Iran dan Amerika berpotensi gangguan di jalur Selat Hormuz dan memberi pengaruh pasar energi global.

Untuk harga BBM bersubsidi tidak mengalami kenaikan, Pemerintah masih menahan tidak naik untuk menjaga daya beli masyarakat. Namun adanya isu bahwa BBM akan mengalami kenaikan, masyarakat diberbagai wilayah harus antri panjang dan berjam jam untuk mendapatkan BBM. Bahkan ketika membeli harga ecer, harganya lumayan tinggi.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tidak akan naik hingga akhir 2026. Meski rata-rata harga minyak dunia mencapai US$100/barel di tengah perang antara AS-Israel dan Iran.

Ditengah perang antara Iran dan Amerika membuat adanya pembatasan kapal yang melintasi selat Hormuz. Saat ini dua kapal Pertamina Indonesia, Pride dan Gamsunoro masih berada di Teluk Arab atau Teluk Persia dalam keadaan aman. Kapal Pertamina Indonesia masih belum bisa melewati Selat Hormuz.

Delima Indonesia yang Masih Bergantung pada BBM Impor

Melihat kondisi saat ini, Pemerintah dilema akan menaikkan atau tidak harga BBM. Jika Pemerintah menaikkan harga BBM maka akan terjadi inflasi dan akan ada gejolak sosial di tengah masyarakat. Namun, jika tidak dinaikkan defisit APBN akan semakin besar. Dua pilihan yang sangat memberikan dampak besar bagi Indonesia.

Meskipun Indonesia menjadi negara yang memiliki kebun sawit terluas di dunia, namun Indonesia menjadi negara net importir minyak. Indonesia bergantung pada pasokan BBM dari luar negeri. Ketika terjadi konflik di negeri lain pasokan minyak Indonesia sangat terdampak. Inilah persoalan BBM yang menyulitkan masyarakat. Saat ini untuk mendapatkan BBM harus rela antri panjang dan berjam jam. Kenaikan inflasi juga masih menghantui masyarakat.

Dari persoalan BBM terlihat bahwa Indonesia tidak menjadi negara yang mandiri. Akibat dari negara yang tergantung pada impor komoditas strategis seperti BBM ketika terjadi konflik global akan sangat terguncang ekonomi dan politiknya. Kondisi seperti ini sangat memberikan pengaruh pada nasib masyarakat.

Ketergantungan Indonesia dengan negara lain tidak bisa dilepaskan. Mengingat saat ini sistem yang dianut di Indonesia adalah sistem kapitalis. Sistem kapitalis adalah sistem yang dianut oleh Amerika. Asas dari sistem kapitalis adalah sekuler yakni pemisahan agama dari kehidupan. Adanya keterkaitan Indonesia dan Amerika dalam sistem yang dianut, ini yang membuat Indonesia tidak menjadi negara mandiri.

Sistem Islam Mampu Mengelola Sumber Daya

Berbeda halnya jika negara menerapkan sistem Islam. Sistem yang berasal dari pencipta manusia yang sudah memiliki peraturan yang komprehensif. Aturan yang mencakup tataran individu, masyarakat dan negara. Dalam Islam, negara dibentuk menjadi negara yang mandiri tidak bergantung dengan negara lain. Kekayaan alam seperti minyak bumi, batu bara, gas, pasir dan kekayaan alam lainnya menjadi kepemilikan umum yang dikelola secara mandiri oleh negara untuk kebutuhan masyarakat secara umum. Kepemilikan umum tidak boleh dimiliki oleh individu maupun pengusaha tertentu.

Wilayah yang tergabung di negara Islam adalah negeri-negeri muslim seperti Indonesia, Malaysia, Arab, Iran dan negeri muslim lainnya. Adanya negara Islam menjadikan minyak yang melimpah di Arab termasuk Iran akan didistribusikan secara merata ke seluruh wilayah negara Islam. Jika kita melihat, negeri-negeri muslim memiliki kekayaan alam yang berlimpah. Maka tidak ada alasan untuk tidak bisa menjadi negara yang mandiri.

Dalam Islam, negara akan bertanggung jawab dalam pengaturan dan pendistribusian BBM. Bahkan negara akan mengatur penggunaan BBM di tengah-tengah masyarakat sesuai syariat Islam. Penghematan BBM akan dilakukan oleh negara sesuai hal-hal yang perlu hemat penggunaannya.

Dengan kemandirian BBM negara Islam akan menjadi negara independen, bahkan adidaya. Sehingga ekonomi dan politiknya tidak mudah terguncang akibat gejolak global. Semua pengaturan dalam negara mengikuti aturan syariat Islam. Pemimpin negara Islam hadir untuk menerapkan hukum-hukum Islam dalam negara. Dari sini negara yang di rahmati akan terwujud. Negara yang mendapatkan kesejahteraan dari langit dan bumi. Sebagaimana firman Allah SWT:

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi…” (QS. Al-A’raf [7]: 96).

Dari sini tampak jelas dengan mengembalikan kembali negara Islam sebagaimana yang pernah dicontohkan Rasulullah SAW, masyarakat tidak akan kesulitan BBM dan kebutuhan hidup lainnya. Indonesia harus menjadi negara yang menganut sistem Islam agar menjadi negara yang mandiri dan adidaya.

Komentar