Legislator Minta Donasi untuk Palestina Terus Mengalir Meski Alami Kendala

Nasional408 Dilihat

Jakarta (Riaunews.com) – Anggota Komisi VII DPR RI, Netty Prasetyani Aher, mengimbau masyarakat Indonesia untuk tidak berhenti memberikan donasi bagi rakyat Palestina, khususnya warga Gaza yang tengah mengalami krisis kemanusiaan berkepanjangan. Menurutnya, meskipun penyaluran bantuan mengalami banyak hambatan akibat blokade Israel, bantuan masih bisa disalurkan melalui jalur tertentu dengan biaya tambahan.

“Bantuan dari masyarakat Indonesia memang tersendat karena pembatasan dari Israel. Namun, bukan berarti tidak bisa masuk sama sekali,” kata Netty dalam perbincangan di RRI Pro 3, Minggu (3/8/2025). “Bantuan masih bisa dikirim, hanya saja membutuhkan biaya ekstra untuk meloloskannya melalui penjaga perbatasan.”

Netty mencontohkan harga satu karung tepung seberat 25 kilogram bisa melonjak hingga 1.200 dolar AS. Biaya mahal tersebut bukan hanya karena barangnya, melainkan juga akibat pungutan liar yang harus dibayar agar bantuan bisa melintasi perbatasan.

“Bayangkan, harga satu karung tepung bisa semahal itu karena adanya pungli di perbatasan. Ini tentu memberatkan, tapi tidak bisa dijadikan alasan untuk berhenti membantu,” jelas legislator dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu.

Ia juga menceritakan pengalamannya menyalurkan bantuan hewan kurban untuk masyarakat Gaza saat Iduladha lalu. Harga satu ekor sapi, menurutnya, bisa dua kali lipat lebih mahal dibanding harga normal karena tingginya biaya tambahan agar dapat masuk ke wilayah Gaza.

“Kebanyakan bantuan tertahan di perbatasan Mesir dan Israel. Itulah sebabnya, bantuan yang bisa masuk membutuhkan dana lebih besar dari biasanya,” ucapnya.

Netty menekankan pentingnya menyalurkan bantuan melalui lembaga resmi yang kredibel dan memiliki akses ke jalur distribusi ke Gaza. Ia menyoroti kondisi anak-anak di wilayah tersebut yang saat ini mengalami krisis kelaparan dan kekurangan gizi parah.

“Saya menangis melihat anak-anak Gaza yang kelaparan dan gizi buruk. Kondisinya sangat memprihatinkan dan makin hari makin parah,” ungkapnya.

Israel diketahui telah memberlakukan blokade total terhadap Gaza selama 18 tahun terakhir. Sejak 2 Maret 2025, seluruh penyeberangan ditutup, sehingga konvoi bantuan kemanusiaan tidak bisa masuk. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sedikitnya 147 orang meninggal karena kelaparan sejak Oktober 2023, termasuk 88 di antaranya adalah anak-anak.

Sejak serangan besar-besaran Israel ke Gaza dimulai pada 7 Oktober 2023, hampir 60.000 warga Palestina dilaporkan tewas, sebagian besar merupakan perempuan dan anak-anak. Pemerintah Israel juga terus menolak seruan internasional untuk melakukan gencatan senjata.

Dalam situasi tersebut, Netty menyerukan agar solidaritas masyarakat Indonesia tidak surut. “Justru di tengah kesulitan, solidaritas dan kepedulian harus terus menyala,” tegasnya.

Komentar