Trump kecam krisis kelaparan dan soroti bantuan tak efektif di Gaza

Internasional678 Dilihat

Washington DC (RiauNews.com) – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan keprihatinan mendalam atas kondisi kemanusiaan di Gaza yang ia sebut sebagai “sungguh mengerikan”, menyusul laporan global tentang kelaparan massal di wilayah tersebut. Untuk menindaklanjuti situasi tersebut, Trump mengutus dua pejabat tinggi Gedung Putih guna meninjau pusat distribusi bantuan pangan yang didukung AS.

Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, bersama Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, tiba di Rafah pada Jumat (01/08/2025) untuk melihat langsung jalannya distribusi makanan kepada warga Gaza. Menurut keterangan resmi Gedung Putih, keduanya dijadwalkan bertemu warga lokal dan menyusun strategi lanjutan pengiriman bantuan.

“Kami ingin memastikan bantuan itu benar-benar sampai ke mereka yang membutuhkan,” ujar Sekretaris Pers Gedung Putih Caroline Leavitt. “Pak Witkoff akan melaporkan langsung kepada Presiden Trump setelah kunjungan ini.”

Dalam pernyataan kepada pers pada Kamis, Trump mempertanyakan efektivitas bantuan sebesar 60 juta dolar AS yang telah digelontorkan untuk bantuan pangan Gaza. Ia menyatakan kekecewaannya terhadap sistem distribusi yang dinilainya kurang transparan dan menyerukan keterlibatan lebih kuat dari Israel dalam pengawasannya.

“Orang-orang sangat kelaparan, dan kami sudah mengeluarkan dana besar. Tapi saya tidak melihat hasilnya,” ujar Trump. “Kami ingin Israel benar-benar mengawasinya.”

Situasi di Gaza menjadi sorotan internasional setelah jumlah korban jiwa akibat operasi militer Israel mencapai lebih dari 60 ribu, sementara gambar anak-anak kelaparan beredar luas di media global dan memicu gelombang simpati di Barat.

Kunjungan Witkoff dan Huckabee berlangsung bersamaan dengan kunjungan Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul ke Israel, yang bertujuan mendesak pemerintah Netanyahu agar membuka akses lebih luas untuk bantuan kemanusiaan. Wadephul memperingatkan bahwa Israel semakin kehilangan dukungan internasional akibat kebijakan blokade dan pendekatan militer terhadap Gaza.

Dalam konteks yang sama, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengumumkan niat negaranya untuk secara resmi mengakui negara Palestina. Inggris dan Kanada menyatakan sedang mempertimbangkan langkah serupa, memperkuat tekanan internasional terhadap Israel.

Sementara itu, pemerintah AS juga mengumumkan sanksi terhadap sejumlah anggota Otoritas Palestina dan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), dengan alasan dukungan mereka terhadap tuntutan hukum internasional terhadap Israel dan tuduhan “dukungan terhadap terorisme.” Daftar pejabat yang dikenai sanksi belum dirilis secara resmi.

Pihak Palestina menilai sanksi ini sebagai bentuk pembalasan politik atas upaya mereka menggalang dukungan internasional untuk kemerdekaan Palestina dan mengakhiri pendudukan Israel.

Kondisi di Gaza kini semakin menjadi ujian bagi kredibilitas AS dan komunitas internasional dalam menangani krisis kemanusiaan dan konflik berkepanjangan di Timur Tengah.

Komentar