
Gaza (RiauNews.com) – Serangan udara dan darat yang dilancarkan Israel sejak Rabu subuh telah menewaskan sedikitnya 78 orang di Jalur Gaza, termasuk 14 warga Palestina yang sedang menunggu bantuan kemanusiaan di dekat pusat distribusi.
Rumah Sakit al-Awda dan Al-Aqsa Martyrs di Gaza melaporkan bahwa sembilan warga sipil terbunuh dan sejumlah lainnya mengalami luka-luka akibat tembakan di dekat Persimpangan Netzarim, Gaza tengah. Para korban dilaporkan sedang mengantre untuk menerima bantuan saat insiden terjadi.
Serangan ini menjadi bagian dari gelombang kekerasan yang semakin intensif di sekitar lokasi distribusi bantuan yang didirikan oleh Gaza Humanitarian Foundation (GHF), lembaga yang dianggap kontroversial karena mendapat dukungan dari Israel dan Amerika Serikat. Kritikus menuding pusat-pusat bantuan itu sebagai “perangkap maut” dan “rumah potong manusia.”
Organisasi kemanusiaan internasional dan PBB mengkritik GHF karena dinilai tidak mampu memenuhi kebutuhan warga dan dianggap memperalat bantuan makanan sebagai bagian dari strategi militer Israel.
Dalam laporan langsung dari Gaza City, jurnalis Al Jazeera Hani Mahmoud menyatakan bahwa lokasi distribusi bantuan GHF sering kali berada sangat dekat dengan posisi pasukan Israel, lengkap dengan tank, kendaraan lapis baja, dan penembak jitu.
“Ketika warga berkumpul, mereka menjadi sasaran tembak. Mereka hanya diberi waktu 20 menit untuk mengambil bantuan seperti paket makanan. Setelah itu, biasanya tembakan dimulai,” kata Mahmoud.
GHF hingga kini membantah bertanggung jawab atas insiden tersebut, meskipun tekanan internasional terhadap lembaga itu kian meningkat sejak mulai beroperasi di wilayah Palestina pada akhir Mei lalu.
Sementara itu, Israel mengklaim bahwa insiden penembakan sebelumnya di sekitar pusat bantuan disebabkan oleh “pendekatan mencurigakan” terhadap posisi militer mereka.
Di tengah meningkatnya kekerasan, Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza memperingatkan bahwa situasi kesehatan dan kemanusiaan di wilayah tersebut telah mencapai titik bencana. Akses terhadap pasokan medis penting masih sangat terbatas akibat blokade ketat Israel.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa “kemajuan besar” sedang dibuat untuk mengakhiri konflik, meskipun kenyataan di lapangan menunjukkan sebaliknya.






Komentar