Tidak Semua yang Terlihat Baik-Baik Saja Benar-Benar Sedang Baik

Opini, Sosial42 Dilihat

Oleh Dea Anggraini

Di tengah kehidupan yang semakin ramai, tidak semua orang merasa memiliki tempat untuk menceritakan apa yang sebenarnya mereka rasakan. Ada yang tetap tertawa bersama teman-temannya, aktif di media sosial, mengikuti kegiatan sekolah atau kuliah, bahkan terlihat menjalani hari seperti biasa.

Namun, di balik semua itu, bisa saja ada beban pikiran yang tidak pernah mereka ceritakan kepada siapa pun.

Kehidupan anak muda sering kali dipenuhi berbagai tuntutan. Mereka diharapkan berprestasi, mampu menentukan masa depan, menjaga hubungan sosial, dan memenuhi harapan keluarga. Pada saat yang sama, mereka juga sedang berada dalam proses mengenali diri sendiri dan menghadapi berbagai perubahan dalam hidup.

Sayangnya, ketika merasa lelah secara emosional, tidak semua anak muda berani mengungkapkannya. Sebagian khawatir dianggap terlalu sensitif, kurang bersyukur, atau hanya mencari perhatian.

Ada pula yang memilih diam karena merasa orang lain tidak akan memahami keadaan mereka.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa pembicaraan mengenai kesehatan mental tidak cukup hanya dengan mengajak seseorang untuk selalu berpikir positif. Kita juga perlu membangun lingkungan yang membuat setiap orang merasa aman untuk menyampaikan apa yang sedang mereka alami tanpa takut dihakimi.

Di Balik Senyum, Ada Perasaan yang Tidak Selalu Terucapkan

Salah satu persoalan dalam pembicaraan tentang kesehatan mental adalah anggapan bahwa seseorang yang terlihat ceria pasti sedang baik-baik saja.

Padahal, penampilan luar tidak selalu menggambarkan kondisi emosional seseorang. Seseorang bisa tetap menjalankan aktivitas sehari-hari sambil menghadapi tekanan yang tidak diketahui orang lain.

Dalam kehidupan anak muda, tekanan tersebut dapat muncul dari berbagai arah. Tuntutan akademik, persoalan keluarga, pertemanan, ketidakpastian masa depan, hingga kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain dapat menjadi sumber beban emosional.

Media sosial juga membuat pencapaian dan kehidupan orang lain terlihat begitu dekat, sehingga sebagian orang merasa harus selalu mampu mengikuti standar yang mereka lihat.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam lembar fakta mengenai kesehatan mental remaja yang diperbarui pada September 2025 menyebutkan bahwa sekitar satu dari tujuh anak berusia 10–19 tahun di dunia mengalami kondisi kesehatan mental tertentu.

WHO juga menjelaskan bahwa tekanan teman sebaya, pengaruh media, kualitas hubungan keluarga, dan lingkungan sosial merupakan sejumlah faktor yang dapat memengaruhi kesehatan mental remaja .

Data tersebut menunjukkan bahwa kesehatan mental bukan persoalan sepele yang hanya berkaitan dengan suasana hati sesaat. Kesejahteraan mental merupakan bagian penting dari tumbuh kembang anak muda.

Ketika persoalan ini tidak mendapat perhatian, dampaknya dapat memengaruhi kehidupan sosial, pendidikan, dan keseharian mereka.

Di Indonesia, UNICEF melalui Profil Kesehatan Remaja Indonesia 2024 juga menyoroti tantangan kesehatan mental pada kelompok remaja. Laporan tersebut mencatat bahwa stigma, keterbatasan tenaga profesional, dan ketidakmerataan akses layanan masih menjadi hambatan dalam memperoleh dukungan kesehatan yang dibutuhkan .

Sayangnya, stigma sering kali muncul dari lingkungan terdekat. Kalimat seperti “jangan terlalu dipikirkan”, “kamu kurang bersyukur”, atau “orang lain juga punya masalah” mungkin terdengar sederhana. Namun, jika terus disampaikan tanpa memahami keadaan seseorang, ucapan tersebut dapat membuat orang semakin enggan bercerita.

Bukan berarti setiap kesedihan harus dianggap sebagai gangguan mental. Perasaan sedih, kecewa, cemas, atau lelah merupakan bagian dari pengalaman manusia. Namun, kita juga tidak boleh meremehkan kesulitan yang dialami orang lain hanya karena kita tidak melihatnya secara langsung.

Karena itu, penting untuk mengubah cara pandang terhadap kesehatan mental. Seseorang tidak harus menunggu sampai kesulitannya terlihat jelas untuk mendapatkan perhatian dan dukungan. Mendengarkan cerita orang lain dengan sungguh-sungguh merupakan langkah sederhana yang dapat membuat lingkungan terasa lebih aman.

Belajar Mendengarkan Tanpa Menghakimi

Lalu, apa yang bisa kita lakukan agar lingkungan menjadi lebih peduli terhadap kesehatan mental? Salah satu langkah paling sederhana adalah belajar mendengarkan. Ketika teman atau orang terdekat bercerita tentang masalahnya, kita tidak harus selalu memiliki jawaban atau solusi.

Terkadang, seseorang hanya membutuhkan ruang yang aman untuk menyampaikan perasaan tanpa takut disalahkan.

Mendengarkan juga berarti tidak terburu-buru memberikan penilaian. Kita dapat menunjukkan perhatian melalui pertanyaan sederhana, seperti menanyakan apa yang sedang dirasakan atau apakah ia ingin ditemani.

Hindari memaksakan nasihat jika orang tersebut belum siap menerimanya. Sikap seperti ini mungkin terlihat kecil, tetapi dapat membuat seseorang merasa dihargai dan tidak sendirian menghadapi persoalannya.

Kepedulian juga perlu dibangun melalui lingkungan keluarga dan sekolah. Keluarga dapat menciptakan suasana komunikasi yang terbuka agar anak merasa nyaman membicarakan perasaannya.

Sementara itu, sekolah dapat menyediakan lingkungan yang aman, mencegah perundungan, serta memberikan akses kepada guru bimbingan konseling atau tenaga profesional ketika dibutuhkan. WHO dan UNICEF juga menekankan pentingnya meningkatkan akses terhadap layanan kesehatan mental yang sesuai bagi anak dan remaja.

Selain itu, kepedulian perlu diwujudkan melalui tindakan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, tidak menyebarkan cerita pribadi teman tanpa izin, tidak menjadikan kesulitan emosional sebagai bahan lelucon, serta tidak memaksa seseorang untuk menceritakan masalahnya ketika belum siap.

Kita juga perlu belajar membedakan antara memberikan dukungan dan merasa paling tahu solusi atas persoalan orang lain. Jika seseorang membutuhkan bantuan lebih lanjut, mengarahkannya kepada orang dewasa tepercaya atau tenaga profesional jauh lebih baik daripada memberikan penilaian sembarangan.

Dengan begitu, kepedulian tidak berhenti sebagai slogan, tetapi benar-benar terasa dalam hubungan antarmanusia.

Pada akhirnya, kita perlu menyadari bahwa tidak semua orang menunjukkan kesedihan dengan cara yang sama. Ada yang mudah bercerita, ada pula yang membutuhkan waktu untuk merasa nyaman. Karena itu, jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa seseorang baik-baik saja hanya karena ia masih bisa tersenyum dan tertawa.

Kita mungkin tidak selalu mengetahui apa yang sedang dialami orang lain, tetapi kita bisa memilih untuk bersikap lebih peka dan tidak menghakimi.

Membangun kepedulian terhadap kesehatan mental bukan hanya tugas tenaga profesional atau lembaga tertentu, melainkan juga tanggung jawab bersama. Kita tidak harus menjadi ahli untuk belajar menghargai perasaan orang lain.

Terkadang, kesediaan untuk mendengarkan dan memberikan ruang sudah menjadi awal yang berarti. Sebab, di balik seseorang yang terlihat baik-baik saja, mungkin ada cerita yang belum sempat disampaikan.