Oleh Tengku Nindy Ananda Putri
Sekarang kehidupan dunia maya sudah merajalela, kebiasaan scorlling juga sudah banyak terjadi. Di tengah perkembangan teknologi digital, media sosial telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat.
Melalui layar ponsel, kita dapat mengetahui aktivitas teman, mengikuti pencapaian orang lain, melihat perjalanan ke berbagai tempat, hingga menyaksikan rutinitas seseorang yang bahkan belum pernah kita temui secara langsung. Semua itu dapat diakses dengan mudah, kapan saja dan di mana saja.
Namun, pernahkah kita menyadari berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk mengamati kehidupan orang lain? Kita mungkin awalnya membuka media sosial hanya untuk mencari hiburan atau melihat satu unggahan.
Akan tetapi, tanpa disadari, perhatian beralih dari satu konten ke konten lainnya. Kita terus melihat, mengikuti, dan terkadang membandingkan kehidupan orang lain dengan kehidupan sendiri.
Besarnya penggunaan media sosial di Indonesia turut memperlihatkan relevansi persoalan ini. Laporan Digital 2026: Indonesia dari DataReportal mencatat sekitar 180 juta identitas pengguna media sosial di Indonesia pada Oktober 2025, setara dengan 62,9 persen dari total populasi. Angka tersebut merupakan identitas pengguna, bukan jumlah individu unik, sehingga tidak dapat langsung diartikan sebagai jumlah orang yang berbeda.
Tingginya penggunaan media sosial tentu tidak otomatis menjadi masalah. Platform digital memberikan banyak manfaat, mulai dari memperoleh informasi hingga menjaga hubungan sosial.
Persoalannya muncul ketika kebiasaan mengamati kehidupan orang lain mengambil terlalu banyak perhatian, memengaruhi cara kita menilai diri sendiri, atau mengurangi keterlibatan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut pandangan penulis, persoalan ini layak diperhatikan karena kita sering kali lebih mudah mengetahui apa yang sedang dilakukan orang lain daripada menyadari bagaimana kita sendiri menghabiskan waktu.
Media sosial seharusnya membantu kita terhubung dengan dunia, bukan membuat kita terus-menerus menjadikan kehidupan orang lain sebagai ukuran untuk menilai kehidupan sendiri.
Ketika Kehidupan Orang Lain Menjadi Tolok Ukur
Salah satu alasan kehidupan orang lain begitu menarik untuk diamati adalah karena manusia memiliki rasa ingin tahu terhadap lingkungan sosialnya. Kita ingin mengetahui apa yang dilakukan orang lain, bagaimana mereka menjalani keseharian, dan pencapaian apa yang berhasil mereka raih.
Media sosial memenuhi rasa ingin tahu tersebut melalui berbagai konten yang tersedia sepanjang waktu. Dan kita selalu beranggapan kalau kehidupan seseorang tersebut lebih baik dibandingakan kita.Seperti liburan, membeli barang baru, atau bahkan mendapatkan penghargaan. Yang kita anggap kehidupan seseorang yang kita liat mudah dan lancar
Namun, kehidupan yang ditampilkan di media sosial tidak selalu menggambarkan keadaan seseorang secara utuh. Unggahan sering kali berisi momen yang dipilih untuk dibagikan kepada publik, seperti keberhasilan, pengalaman menyenangkan, atau kegiatan yang terlihat menarik.
Sementara itu, kegagalan, kebosanan, dan kesulitan sehari-hari mungkin tidak ditampilkan dengan porsi yang sama. Mereka hanya menangambil beberapa bagian kehidupan mereka yang termasuk indah.
Kita tidak pernah tau dibalik content atau postingan seseorang apa saja cobaan, atau usaha kerja keras yang mereka lakukan untuk mendapatkan semua hal yang kita liat enak di postingan mereka.
Kondisi tersebut dapat membuat seseorang membandingkan kehidupan sehari-harinya dengan potongan kehidupan orang lain yang terlihat lebih menarik. Ketika melihat teman meraih prestasi, misalnya, seseorang mungkin mulai mempertanyakan pencapaiannya sendiri.
Melihat orang lain berlibur dapat membuat keseharian terasa monoton, sedangkan unggahan tentang keberhasilan seseorang bisa memunculkan perasaan tertinggal.
Hubungan antara media sosial dan kebiasaan membandingkan diri telah dikaji dalam penelitian. Vogel dan rekan-rekannya melalui artikel Social Comparison, Social Media, and Self-Esteem yang diterbitkan pada 2014 dalam jurnal Psychology of Popular Media Culture meneliti hubungan penggunaan Facebook, perbandingan sosial, dan harga diri.
Dalam salah satu studi mereka, penggunaan Facebook yang lebih sering berkaitan dengan harga diri yang lebih rendah, dengan paparan perbandingan sosial ke atas berperan sebagai variabel perantara.
Eksperimen mereka juga menemukan bahwa paparan profil yang menampilkan individu dengan karakteristik yang dianggap lebih unggul berkaitan dengan penilaian diri yang lebih rendah pada peserta.
Penelitian tersebut tidak berarti bahwa setiap orang yang menggunakan media sosial akan mengalami penurunan harga diri. Namun, temuannya menunjukkan bahwa jenis konten yang kita lihat dan cara kita membandingkan diri dengan orang lain patut diperhatikan.
Meski demikian, kedua penelitian tersebut memperkuat alasan untuk lebih sadar terhadap kebiasaan menggunakan media sosial. Jika kita terus-menerus melihat pencapaian orang lain tanpa mempertimbangkan perbedaan keadaan dan proses setiap individu, kita berisiko menggunakan standar yang tidak seimbang untuk menilai diri sendiri.
Masalah lainnya adalah waktu dan perhatian yang terserap oleh kebiasaan scrolling. Ketika satu konten selesai ditonton, konten lain langsung tersedia.
Aktivitas tersebut dapat berlanjut tanpa tujuan yang jelas, sehingga waktu untuk membaca, mengembangkan keterampilan, menikmati hobi, atau berinteraksi dengan orang terdekat berkurang.
Menurut pandangan penulis, masalah utamanya bukan terletak pada tindakan melihat kehidupan orang lain, melainkan ketika aktivitas tersebut menjadi begitu dominan hingga kita jarang memberikan perhatian kepada kehidupan sendiri.
Kita tidak harus menghindari media sosial sepenuhnya, tetapi perlu menyadari kapan penggunaannya masih bermanfaat dan kapan kebiasaan itu mulai mengganggu keseharian.
Menggunakan Media Sosial Tanpa Kehilangan Kehidupan Sendiri
Mengatasi kebiasaan terlalu sibuk mengamati kehidupan orang lain tidak berarti kita harus meninggalkan media sosial sepenuhnya. Teknologi tetap memiliki manfaat apabila digunakan secara sadar.
Karena itu, langkah yang lebih realistis adalah membangun kebiasaan digital yang seimbang, dimulai dari cara kita memahami tujuan penggunaan media sosial.
Pertama, kita perlu lebih sadar terhadap alasan membuka aplikasi. Apakah kita sedang mencari informasi, berkomunikasi dengan teman, atau sekadar membuka ponsel karena bosan? Pertanyaan sederhana ini dapat membantu kita membedakan penggunaan yang memiliki tujuan dengan kebiasaan scrolling yang berlangsung tanpa disadari.
Menentukan batas waktu penggunaan dan memanfaatkan fitur pengingat waktu layar juga dapat membantu menjaga keseimbangan.
Kedua, kita perlu memahami bahwa konten yang muncul di media sosial bukanlah gambaran lengkap kehidupan seseorang. Setiap orang memiliki pengalaman, kesempatan, dan tantangan yang berbeda.
Dengan mengingat hal tersebut, kita dapat menikmati pencapaian orang lain tanpa menjadikannya sebagai ukuran mutlak untuk menilai diri sendiri. Keberhasilan orang lain seharusnya dapat menjadi inspirasi, bukan alasan untuk meremehkan pencapaian pribadi.
Ketiga, penting untuk mengisi kehidupan di luar layar dengan kegiatan yang bermakna. Membaca buku, mempelajari keterampilan baru, menjalankan hobi, atau menghabiskan waktu bersama orang terdekat dapat membantu kita memberikan perhatian kembali kepada pengalaman nyata.
Tujuannya bukan untuk menjadi produktif setiap saat, melainkan memastikan bahwa kehidupan sehari-hari tidak hanya berlalu sebagai tontonan di layar.
Keempat, kita dapat mengevaluasi konten yang dikonsumsi. Jika suatu jenis unggahan terus-menerus membuat kita merasa tidak cukup baik, kita dapat mengurangi paparannya dan memilih mengikuti akun yang memberikan informasi, hiburan, atau inspirasi secara lebih sehat.
Kita juga tidak harus mengikuti setiap tren atau mengetahui semua hal yang sedang ramai diperbincangkan.
Pada akhirnya, penggunaan media sosial yang sehat membutuhkan keseimbangan antara keterhubungan dengan dunia luar dan perhatian terhadap diri sendiri.
Kita tetap dapat menikmati konten, mengikuti perkembangan orang lain, dan menemukan inspirasi tanpa harus menjadikan setiap unggahan sebagai pembanding bagi kehidupan pribadi.
Kehidupan orang lain memang menarik untuk diamati, tetapi kehidupan kita sendiri juga layak mendapatkan perhatian yang sama. Media sosial seharusnya menjadi jendela untuk mengenal dunia, bukan satu-satunya tempat kita mencari ukuran tentang bagaimana kehidupan seharusnya dijalani.
Sebab, di tengah banyaknya kehidupan yang dapat kita saksikan melalui layar, kehidupan kita sendiri tetap membutuhkan perhatian untuk benar-benar dijalani.
