Oleh Putri Febrina Hasibuan
Aktivis Muslimah dan Praktisi Kesehatan
Bagi masyarakat Palestina, pohon zaitun bukan sekadar komoditas agraris yang menopang perekonomian keluarga. Pohon-pohon tua ini adalah akar identitas, saksi bisu sejarah, dan penghubung spiritual antara penduduk lokal dengan tanah kakek moyang mereka. Namun, ironi kelam kembali berulang setiap kali musim panen tiba terutama menjelang bulan Oktober dan November.
Alih-alih merayakan hasil jerih payah, para petani di Tepi Barat justru harus menyaksikan lahan mereka diratakan oleh buldoser militer dan diserang oleh kelompok pemukim radikal.
Serangan-serangan brutal ini menunjukkan satu pola yang sistematis yaitu ada upaya sengaja untuk melumpuhkan sendi-sendi ekonomi sekaligus mencabut akar budaya rakyat Palestina agar mereka terpaksa meninggalkan tanah kelahirannya.
Standar Ganda Dunia Internasional dan Retaknya Nurani Global
Kekerasan yang terjadi di musim panen tahun ini tidak lagi sekadar menargetkan warga lokal. Ketika seorang fotografer jurnalis asing (seperti dari Washington Post) dan para aktivis turut menjadi korban pemukulan brutal di Tepi Barat, reaksi dunia internasional mendadak terbangun dari tidur panjangnya.
Pejabat tinggi seperti Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio hingga Uni Eropa berlomba-lomba melayangkan kecaman keras dan menyatakan keprihatinan. Namun, di balik retorika diplomatik tersebut, dunia seolah menutup mata bahwa penderitaan serupa telah dialami warga Palestina setiap hari selama bertahun-tahun. Kecaman tanpa sanksi nyata atau tindakan tegas hanyalah angin lalu yang tidak mengubah apa pun di atas tanah yang berdarah.
Lebih parah lagi, sikap pasif para penguasa negeri-negeri Muslim seakan mempertegas bahwa umat Islam hari ini sedang berjalan tanpa pelindung yang tangguh. Ketergantungan pada diplomasi global terbukti rapuh, menyisakan kesadaran bahwa umat Islam tidak bisa terus-menerus menggantungkan nasib pada pihak luar yang bersikap setengah hati.
Menuju Kesadaran Kolektif: Refleksi dan Jalan Keluar
Krisis yang terus berulang di Palestina mengetuk nurani kita yang paling dalam. Ketidakadilan ini bukan sekadar berita internasional yang lewat di beranda media sosial, melainkan sebuah ujian moral bagi seluruh umat manusia.
Keadilan sejati tidak akan lahir dari meja perundingan yang pincang atau simpati sesaat para penguasa dunia. Ia menuntut kesadaran kolektif umat untuk kembali pada kekuatan persatuan yang berpegang teguh pada prinsip kebenaran hakiki.
“Pohon-pohon zaitun mungkin ditebang oleh besi dan penindasan, tetapi akar perlawanan dan harga diri rakyat Palestina tidak akan pernah bisa dicabut. Di tengah dunia yang lelah oleh standar ganda, tugas kita adalah terus merawat kepedulian, menyuarakan kebenaran, dan tidak membiarkan nurani kita mati perlahan di atas penderitaan sesama.”
Kebuntuan diplomasi internasional dan sikap apatis lembaga-lembaga global di atas menegaskan satu hal: memohon keadilan kepada pihak yang melanggarnya adalah sebuah kesia-siaan. Masalah mendasar yang berakar pada penjajahan dan perampasan hak ini tidak akan pernah selesai dengan tambal-sulam regulasi buatan manusia. Oleh karena itu, umat butuh beralih dari solusi pragmatis menuju kerangka pemikiran dan aksi yang berakar kuat pada nilai-nilai keislaman.
Berikut adalah kerangka solusi hakiki dalam pandangan Islam untuk merespons persoalan di Palestina. Pertama, Kembalinya Kesatuan Umat (Ukhuwah Islamiyah). Umat Islam tidak boleh tercerai-berai ke dalam batas-batas nasionalisme sempit yang membuat mereka hanya menjadi penonton ketika saudara seakidahnya dizalimi. Persatuan global umat diikat oleh akidah, bukan sekadar batas teritorial.
Kedua, Peran Kepemimpinan yang Melindungi (Ri’ayah): Dalam sejarah Islam, perlindungan terhadap darah, kehormatan, dan tanah kaum Muslimin merupakan kewajiban utama seorang pemimpin. Lemahnya posisi Palestina hari ini diakibatkan oleh absennya perisai dan kepemimpinan politik yang benar-benar berpihak pada penegakan hukum Allah serta pembelaan tertindas.
Ketiga, perlawanan dan Keteguhan (Sumud): Menjaga tanah dan eksistensi di bumi para nabi adalah bentuk keteguhan (sumud). Membantu Palestina wajib dilakukan dengan seluruh potensi yang ada mulai dari harta, doa, boikot ekonomi terhadap produk yang mendukung penjajahan, hingga terus menyuarakan kebenaran agar isu ini tidak pernah padam.
Keempat, keadilan Mutlak dan Janji Allah: Islam mengajarkan bahwa kezaliman tidak akan dibiarkan abadi. Setiap tetesan darah dan penderitaan memiliki balasan yang pasti di sisi-Nya, dan pertolongan Allah SWT akan datang kepada mereka yang sabar dan konsisten menegakkan kebenaran.
Solusi Islam memandang bahwa kemerdekaan Palestina bukan sekadar isu kemanusiaan biasa, melainkan ujian keimanan bagi seluruh umat Islam di dunia untuk bersikap adil dan membela kebenaran tanpa kenal takut.
Hal yang tak kalah penting, menyuarakan kembali penerapan islam secara utuh dan sempurna, akan membuat tegaknya jihad hakiki sehingga kemerdekaan Palestina menjadi sebuah kenyataan.
