Road to Jogja Halal Fest #3, UMKM Didorong Perkuat Manajemen Bisnis dan Transformasi Digital

Yogyakarta (Riaunews.com) – Penguatan kapasitas pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem ekonomi dan industri halal yang berkelanjutan. Hal tersebut menjadi fokus kegiatan Road to Jogja Halal Fest (JHF) #3 Internasional 2026 melalui agenda penguatan kapasitas UMKM bertajuk “Manajemen Bisnis Praktis UMKM” di Kalurahan Kadipaten, Minggu (20/9/2026).

Kegiatan tersebut merupakan rangkaian menuju penyelenggaraan JHF #3 Internasional 2026 yang akan berlangsung pada 4–6 Desember 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta.

Melalui kegiatan ini, pelaku UMKM didorong tidak hanya meningkatkan kualitas produk, tetapi juga memperkuat kemampuan mengelola usaha secara terstruktur. Materi yang diberikan mencakup perencanaan, pengorganisasian, pengelolaan keuangan, pemasaran, hingga pemanfaatan teknologi digital.

UMKM Didorong Bangun Bisnis dengan Sistem

Ketua Departemen Pengembangan UMKM dan Keuangan Sosial MES DIY, Dr. Jumadi, S.E., M.M., yang menjadi pemateri menjelaskan bahwa keberlanjutan UMKM tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan menghasilkan dan menjual produk.

Menurutnya, pelaku usaha perlu membangun fondasi manajemen yang dapat menjaga keberlangsungan bisnis sekaligus membuka peluang pertumbuhan. Peserta juga diperkenalkan pada perbedaan antara sekadar “jualan” dan membangun “bisnis”.

Pemahaman tersebut dinilai penting karena sebagian pelaku UMKM masih menjalankan usaha secara operasional tanpa sistem yang memadai. Kondisi itu membuat perkembangan usaha kerap bergantung pada kapasitas personal pemilik.

Jumadi kemudian menjelaskan fungsi dasar manajemen yang meliputi planning, organizing, actuating, controlling, dan improving. Kelima aspek tersebut menjadi dasar agar pelaku UMKM dapat menjalankan usaha secara terarah, melakukan evaluasi berkala, serta memperbaiki bisnis berdasarkan perkembangannya.

Peserta juga mendapatkan materi mengenai Business Model Canvas (BMC) untuk memetakan model bisnis. Instrumen tersebut membantu pelaku UMKM memahami segmentasi pelanggan, proposisi nilai, saluran pemasaran, hubungan dengan pelanggan, sumber pendapatan, struktur biaya, serta sumber daya utama.

“Pelaku UMKM perlu membangun kebiasaan pencatatan keuangan harian, sehingga kondisi keuangan usaha dapat dipantau secara lebih objektif. Pemahaman mengenai harga pokok penjualan (HPP), penentuan harga jual, serta pemisahan antara keuangan usaha dan kebutuhan pribadi menjadi bagian dari upaya membangun tata kelola bisnis yang lebih sehat,” kata Jumadi.

Perkuat Pemasaran dan Transformasi Digital

Pada aspek pemasaran, Jumadi memperkenalkan strategi 4P, yakni product, price, place, dan promotion. Strategi tersebut perlu disusun berdasarkan karakteristik produk dan target pelanggan, bukan sekadar mengikuti tren pemasaran.

Penguatan bisnis UMKM juga mencakup aspek branding dan hubungan dengan pelanggan. Identitas merek, kualitas layanan, konsistensi produk, serta kemampuan memahami kebutuhan pelanggan dinilai penting agar UMKM tidak hanya mendapatkan konsumen, tetapi juga membangun hubungan jangka panjang.

“Penguatan bisnis UMKM juga dikaitkan dengan pentingnya branding dan hubungan dengan pelanggan. Identitas merek, kualitas layanan, konsistensi produk, serta kemampuan memahami kebutuhan pelanggan menjadi faktor yang perlu diperhatikan agar UMKM tidak hanya mampu mendapatkan konsumen, tetapi juga membangun hubungan jangka panjang,” pungkas Jumadi.

Selain itu, peserta diperkenalkan pada tahapan digitalisasi usaha, mulai dari penggunaan kanal digital dasar hingga pemanfaatan data dan kecerdasan artifisial untuk mendukung pengambilan keputusan.

Digitalisasi dalam pengembangan UMKM tidak ditempatkan sekadar sebagai aktivitas menggunakan media sosial. Pemanfaatan teknologi diarahkan menjadi bagian dari proses pengembangan dan efisiensi bisnis sehingga pelaku usaha dapat mengelola kegiatan secara lebih terukur dan adaptif.