DPRD Pekanbaru Minta Pengawasan MBG Diperketat Usai Kasus Keracunan di Riau

Pekanbaru29 Dilihat

Pekanbaru (Riaunews.com) – Kasus keracunan setelah mengonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG) terjadi di sejumlah daerah di Riau. Kondisi tersebut mendorong anggota DPRD Pekanbaru meminta pengawasan terhadap kualitas makanan dan kebersihan dapur MBG diperketat agar kejadian serupa tidak terjadi di Kota Pekanbaru.

Kasus keracunan MBG terjadi di Kota Dumai pada 13 Agustus 2026. Sedikitnya 45 orang terdampak, terdiri dari 43 siswa SDN 013, dua siswa SDN 015 Buluh Kasap, serta seorang guru yang dilaporkan turut mengalami keluhan setelah mengonsumsi makanan MBG.

Para korban mengalami sejumlah gejala, seperti mual, muntah, pusing, sakit perut, diare hingga demam sekitar satu hingga dua jam setelah menyantap menu yang terdiri dari nasi putih, bakso orek, tempe goreng, tumis labu siam dan wortel, serta buah jeruk. Para korban kemudian mendapat perawatan di RSUD dr Suhatman Kota Dumai.

Buntut kejadian tersebut, Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Dumai dinonaktifkan. Berdasarkan inspeksi awal Dinas Kesehatan, petugas menemukan kondisi dapur SPPG yang basah dan belum memiliki pengontrol suhu panas yang memadai.

Kasus serupa juga terjadi di Kabupaten Kampar pada pertengahan Agustus 2026. Puluhan pelajar SDN 008 Rimba Beringin dan SMKN 1 Tapung Hulu, Kecamatan Tapung Hulu, mengalami keluhan setelah mengonsumsi makanan MBG. Sekitar 40 siswa dilaporkan menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan, di antaranya Puskesmas Tapung, Puskesmas Tapung Hulu, dan Klinik PTPN 4 di Tandun.

DPRD Minta BGN Evaluasi Dapur MBG

Anggota DPRD Pekanbaru dari Fraksi PDI Perjuangan, Zulkardi, meminta seluruh pengelola dapur MBG memastikan kualitas makanan sebelum mendistribusikannya kepada pelajar. Ia mengingatkan agar kasus keracunan yang terjadi di sejumlah daerah tidak terjadi di Pekanbaru.

“Kita mengimbau pemilik dapur MBG bisa mengawasi kualitas makanan dan kualitas gizinya sehingga tidak mengakibatkan anak-anak SD, SMP tidak keracunan,” kata Zulkardi, Kamis (10/9/2026).

Zulkardi menilai pengawasan Badan Gizi Nasional (BGN) terhadap dapur MBG masih lemah. Karena itu, ia meminta BGN melakukan evaluasi secara berkala, termasuk memastikan pemenuhan standar gizi dan kebersihan makanan. Ia juga meminta pengelola dapur turun langsung mengawasi proses pengolahan makanan dan memastikan kebersihan lingkungan dapur.

“Hari ini lemahnya pengawasan dari BGN untuk melihat dan mengevaluasi dapur-dapur MBG. Karena saya lihat hari ini membiarkan. Misalnya ada contohnya ada makanan tidak sesuai gizinya. Banyak kita dapatkan,” ujarnya.

Komentar