Pekanbaru (Riaunews.com) – Puluhan pemuda yang mewakili lima desa di Kabupaten Pelalawan mendatangi Kantor Gubernur Riau, Senin (10/8/2026). Mereka mendesak Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau mempercepat pembangunan Jalan Lintas Bono yang menghubungkan sejumlah wilayah di Kecamatan Kuala Kampar dan Teluk Meranti.
Lima desa yang menyuarakan persoalan tersebut yakni Desa Sokoi dan Sungai Emas di Kecamatan Kuala Kampar serta Desa Labuan Bilik, Gambut Mutiara, dan Segamai di Kecamatan Teluk Meranti. Warga menilai kondisi jalan di wilayah tersebut masih menyulitkan aktivitas masyarakat, termasuk anak sekolah, pekebun, dan petani.
Koordinator Pemuda Kubangan, Muhammad Ali, mengatakan terdapat sekitar 54 kilometer ruas jalan yang belum dapat dilalui kendaraan secara optimal. Menurutnya, sejumlah ruas bahkan hanya bisa dilewati sepeda motor meski telah mendapat pengerasan atau semenisasi.
“Ada 54 Km yang jalannya tidak bisa dilewati oleh kendaraan. Kalau pun disemenisasi hanya bisa dilewati roda dua, sementara roda empat tidak bisa,” ungkap Ali.
Ia meminta Pemprov Riau segera menyelesaikan pembangunan ruas tersebut. Selain mengandalkan anggaran pemerintah, massa juga meminta Pemprov Riau mendorong perusahaan di sekitar wilayah tersebut mengalokasikan dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) untuk mendukung pembangunan jalan.
Pemprov Akui Pembangunan Masih Bertahap
Plt Kepala Dinas PUPR-PKPP Riau, Fahmi, mengatakan ruas jalan yang dikeluhkan masyarakat tersebut memang menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi Riau. Namun, pembangunan Jalan Lintas Bono dilakukan secara bertahap karena ruas jalan tersebut memiliki panjang sekitar 200 kilometer.
Menurutnya, Pemprov Riau telah mengarahkan sejumlah sumber anggaran untuk mempercepat pembangunan jalan tersebut. Pemerintah menggunakan program Instruksi Presiden Jalan Daerah (IJD), Dana Alokasi Khusus (DAK), dan APBD untuk mengerjakan sejumlah ruas.
“Jadi program Inpres Jalan Daerah (IJD), program Dana Alokasi Khusus (DAK), kita fokuskan untuk pengaspalan Jalan Simpang Bunut – Teluk Meranti. Alhamdulillah sudah selesai, kemudian dilanjutkan Teluk Meranti – Sipekek dengan penimbunan, dan alhamdulillah juga sudah tembus,” ungkap Fahmi.
Ia menjelaskan ruas Sipekek-Sokoi memiliki panjang sekitar 54 kilometer. Dari total tersebut, pemerintah baru melakukan penimbunan sekitar lima kilometer sehingga masih terdapat sekitar 50 kilometer yang belum tertangani.
Fahmi mengatakan lima desa yang menyampaikan aspirasi berada di bagian ujung Jalan Lintas Bono. Pemprov Riau memilih mengerjakan jalan dari bagian depan secara bertahap agar pembangunan tidak terputus-putus di tengah ruas.
“Tentu hal ini belum tercapai. Karena kita kerja dari depan, tidak mungkin dari ujung. Kalau di ujung bagus tapi di tengahnya bolong-bolong tentu tidak terprogram secara baik,” tegasnya.
Pemprov Siapkan Kolaborasi dengan Perusahaan
Fahmi menyebut Pemprov Riau telah mengalokasikan anggaran cukup besar untuk pembangunan Jalan Lintas Bono melalui berbagai skema pembiayaan. Namun, panjang jalan sekitar 200 kilometer membuat pemerintah tidak dapat menyelesaikan seluruh ruas dalam satu tahap.
“Akan tetapi, karena jalan yang panjangnya 200 Km tentu pengerjaannya bertahap, tidak bisa sekaligus,” terangnya.
Terkait permintaan masyarakat agar perusahaan turut membantu melalui CSR, Pemprov Riau akan memanggil perusahaan yang beroperasi di sekitar wilayah tersebut. Pemerintah akan mendorong perusahaan berkontribusi terhadap pembangunan infrastruktur yang dibutuhkan masyarakat.
Langkah tersebut diharapkan dapat mempercepat penanganan ruas jalan yang belum tersentuh pembangunan sekaligus menjawab kebutuhan akses masyarakat di lima desa yang berada di kawasan ujung Jalan Lintas Bono.







Komentar