Pekanbaru (Riaunews.com) – Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seiring kondisi kemarau dan fenomena El Nino yang meningkatkan risiko kebakaran di wilayah rawan.
Upaya antisipasi tersebut dilakukan setelah kualitas udara Kota Pekanbaru masuk kategori tidak sehat berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pekanbaru. Kondisi itu dipengaruhi konsentrasi partikulat PM2.5 di udara.
Selain kualitas udara, kebakaran lahan masih terjadi di sejumlah wilayah Kota Pekanbaru. BPBD mencatat luas lahan yang terbakar sepanjang Januari hingga 9 Agustus 2026 mencapai 42,14 hektare.
“Kondisi ini membuat kita harus melakukan persiapan untuk antisipasi bencana kebakaran lahan,” kata Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho, Selasa (11/8/2026).
BPBD Siagakan 90 Personel
Agung mengatakan BPBD Kota Pekanbaru terus memantau lokasi yang rawan mengalami kebakaran lahan. Petugas juga memetakan dan memantau sumber air yang dapat digunakan untuk mendukung proses pemadaman apabila kebakaran terjadi.
“Apalagi BPBD sudah ada relawan tangguh bencana, ada juga peralatan pemadam di setiap kecamatan untuk membantu penanganan kebakaran lahan,” terangnya.
Sebanyak 90 personel BPBD Kota Pekanbaru disiagakan untuk mengantisipasi potensi kebakaran. Petugas juga berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk unsur TNI dan kepolisian, untuk mempercepat penanganan apabila muncul titik api.
Siaga Darurat hingga November
Pemko Pekanbaru juga telah menetapkan status Siaga Darurat Kebakaran Lahan. Status tersebut direncanakan berlaku hingga 30 November 2026.
Pemerintah mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama periode kemarau dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran lahan. Pemko Pekanbaru juga mendorong masyarakat segera melaporkan apabila menemukan titik api agar petugas dapat melakukan penanganan sedini mungkin.







Komentar