Oleh Nasti Sakinah, S. Kom
Terjadinya fenomena minimnya murid baru di sejumlah Sekolah Dasar Negeri (SDN) pada tahun ajaran 2026/2027 menjadi perbincangan nasional. Di berbagai daerah, terdapat sekolah yang hanya menerima satu hingga lima murid, bahkan ada yang tidak memperoleh murid sama sekali.
Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah pun menyiapkan berbagai langkah, salah satunya regrouping atau penggabungan sekolah yang jumlah siswanya sangat sedikit. Fenomena ini dipengaruhi oleh perubahan demografi, seperti menurunnya angka kelahiran dan urbanisasi, di samping adanya perubahan preferensi masyarakat dalam memilih sekolah.
Sekilas, persoalan ini tampak sebagai masalah teknis pendidikan. Padahal, jika dicermati lebih dalam, krisis murid SD negeri sesungguhnya sedang menyampaikan pesan penting: masyarakat, khususnya para orangtua, sedang kehilangan rasa aman terhadap masa depan generasi mereka.
Memang, faktor demografi memiliki andil. Program pengendalian penduduk selama bertahun-tahun menyebabkan angka kelahiran terus menurun. Di sisi lain, tingginya biaya hidup akibat sistem ekonomi kapitalistik membuat banyak pasangan muda menunda bahkan membatasi jumlah anak.
Urbanisasi juga memperparah keadaan karena masyarakat usia produktif berpindah ke kota demi mencari penghidupan yang lebih baik, sementara sekolah-sekolah di daerah kehilangan calon peserta didik.
Orang Tua Rela Bayar Mahal Demi Pendidikan Islam
Namun, ada fakta yang jauh lebih menarik. Di tengah banyaknya SD negeri yang kekurangan murid, sekolah-sekolah berbasis agama justru tetap diminati. Tidak sedikit orangtua rela membayar lebih mahal demi menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan yang memberikan pembinaan ibadah, pembelajaran Al-Qur’an, dan pembentukan akhlak Islam.
Pilihan ini menunjukkan bahwa yang sedang dicari masyarakat bukan semata-mata gedung sekolah yang megah ataupun fasilitas modern. Mereka sedang mencari benteng yang mampu melindungi anak-anaknya dari derasnya arus kerusakan moral.
Kekhawatiran tersebut sangat beralasan. Hari demi hari masyarakat disuguhi berbagai kasus perundungan, tawuran, penyalahgunaan narkoba, pornografi, pergaulan bebas, kekerasan seksual, hingga tindak kriminal yang melibatkan pelajar. Media digital yang nyaris tanpa batas turut mempercepat penyebaran budaya liberal kepada anak-anak. Orangtua menyadari bahwa ancaman terbesar bagi generasi hari ini bukan hanya kebodohan, melainkan hilangnya keimanan dan rusaknya akhlak.
Ironisnya, solusi yang terus ditawarkan negara lebih banyak berkutat pada persoalan administratif, mulai dari pergantian kurikulum, perubahan sistem penerimaan murid, hingga penggabungan sekolah. Semua itu mungkin dapat mengatasi persoalan teknis, tetapi tidak menyentuh akar kerusakan generasi.
Mengapa? Sebab, sumber persoalan bukan terletak pada kurikulum semata, melainkan pada sistem kehidupan yang menjadi pondasinya.
Islam Menuntut Umatnya Peduli Dengan Pendidikan
Sistem sekuler liberal memisahkan agama dari kehidupan. Pendidikan akhirnya diarahkan terutama untuk menghasilkan sumber daya manusia yang produktif secara ekonomi, bukan membentuk manusia yang bertakwa kepada Allah Swt. Keberhasilan pendidikan lebih sering diukur melalui angka kelulusan, prestasi akademik, atau kemampuan bersaing di pasar kerja, sementara pembentukan syakhsiyah Islamiyah (kepribadian Islam) tidak menjadi orientasi utama.
Tidak mengherankan apabila kerusakan moral terus bermunculan meskipun kurikulum berkali-kali berganti. Sebab, generasi tetap dibesarkan dalam sistem yang menjadikan kebebasan sebagai nilai utama, sementara syariat Allah hanya ditempatkan sebagai urusan pribadi.
Dalam pandangan Islam, pendidikan merupakan kebutuhan dasar rakyat sekaligus pilar utama tegaknya peradaban. Karena itu, negara wajib menjamin terselenggaranya pendidikan yang berkualitas, merata, dan gratis bagi seluruh warga negara.
Islam juga memiliki konsep pendidikan yang jelas. Kurikulum dibangun di atas akidah Islam sehingga seluruh ilmu diarahkan untuk membentuk manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, sekaligus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Negara menyediakan guru yang berkualitas, sarana pendidikan yang memadai, serta lingkungan masyarakat yang mendukung ketaatan kepada Allah. Pendidikan tidak berdiri sendiri, tetapi ditopang oleh sistem sosial, ekonomi, media, dan hukum yang sama-sama berlandaskan syariat Islam.
Model pendidikan seperti inilah yang pernah melahirkan generasi sahabat, tabi’in, hingga para ilmuwan besar Islam yang memimpin peradaban dunia selama berabad-abad. Mereka tidak hanya unggul dalam ilmu, tetapi juga memiliki ketakwaan yang kokoh.
Karena itu, meningkatnya minat masyarakat terhadap sekolah berbasis agama patut diapresiasi sebagai bentuk ikhtiar menjaga generasi. Namun, kesadaran tersebut tidak boleh berhenti pada level individu. Umat perlu memahami bahwa kerusakan generasi bukan sekadar akibat lemahnya pengawasan orangtua atau kurangnya pelajaran agama di sekolah, melainkan merupakan dampak sistemik dari penerapan sistem sekuler liberal.
Di sinilah pentingnya dakwah politik Islam.
Dakwah bukan hanya mengajak individu memperbaiki ibadah dan akhlaknya, tetapi juga membangun kesadaran umat tentang kewajiban menerapkan syariat Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan. Dengan kesadaran politik Islam, umat akan memahami bahwa menjaga generasi tidak cukup dilakukan dengan memilih sekolah terbaik, tetapi juga dengan memperjuangkan lahirnya sistem kehidupan yang menjadikan wahyu sebagai dasar pengaturan masyarakat.
Allah Swt. berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah) dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan.” (QS. Al-Baqarah: 208).
Krisis murid SD negeri bukan sekadar persoalan bangku yang kosong. Ia adalah alarm bahwa masyarakat sedang mencari tempat paling aman untuk menyelamatkan akidah dan akhlak anak-anak mereka. Namun, benteng itu tidak akan pernah benar-benar kokoh selama generasi masih hidup dalam sistem yang memisahkan agama dari kehidupan.
Karena itu, dakwah harus terus mengarahkan umat agar tidak hanya menyelamatkan anaknya, tetapi juga berjuang menghadirkan sistem Islam yang akan menjaga seluruh generasi dan membangun kembali peradaban yang diridhai Allah Swt.
Wallohua’lam…







Komentar