Muharram, Saatnya Umat Bangkit Memperjuangkan Islam Kaffah

Opini, Seputar Islam11 Dilihat

Oleh Ina Ariani, Aktivis Muslimah Pekanbaru

1 Muharram 1448 H telah tiba. Tahun berganti, tapi luka umat Islam belum sembuh. Di dalam negeri masalah bertumpuk. Di luar negeri, darah Muslim masih mengalir. Muharram datang bukan hanya untuk ganti kalender, tapi sebagai tamparan: sudah saatnya umat bangkit dan kembali pada Islam kaffah.

Fakta Pahit yang Membelit Umat hari ini

Kenestapaan dalam negeri, Sepanjang tahun rakyat dicekik berbagai masalah: kemiskinan struktural yang tak kunjung selesai, judi online menjerat generasi, prostitusi anak, kasus bullying di sekolah, eksploitasi seksual, hingga kekerasan yang makin merajalela. Angka naik, solusi yang diberikan hanya tambal-sulam.

Genosida Palestina terus berlanjut , di panggung internasional, genosida di Gaza terus berlangsung. Umat Islam di sana dibiarkan mati kelaparan, dibombardir, diusir dari tanahnya. Sementara penguasa negeri-negeri Muslim diam, tidak menggerakkan pasukan untuk membela. Batas negara jadi tembok yang memisahkan.

Jauh dari predikat Khairu Ummah. 1 Muharram 1448 H tiba, tapi kondisi umat masih jauh dari predikat khairu ummah yang disebut Allah: umat terbaik yang menyuruh ma’ruf dan mencegah mungkar. QS. Ali Imran: 110. Realitanya, kemungkaran justru merajalela tanpa ada yang menghentikan.

Di Mana Akar Masalahnya?

Buah penerapan Sekularisme-Kapitalisme, Seluruh kerusakan dalam negeri adalah buah dari penerapan sistem Sekularisme-Kapitalisme. Saat standar halal-haram dicopot, lalu diganti standar manfaat materi dan untung-rugi, kerusakan jadi merata. Agama dipisah dari urusan negara, hasilnya: hukum berpihak pada pemilik modal, moral generasi hancur, keluarga retak.

Umat lemah karena tercerai-berai. Lemahnya umat Islam di panggung internasional, termasuk ketidakmampuan membela Palestina, terjadi karena tidak adanya institusi Khilafah yang menyatukan dan melindungi umat. Umat Islam terpecah belah oleh sekat-sekat nasionalisme buatan penjajah barat. Muharram, Saatnya Umat Bangkit Memperjuangkan Islam Kaffah

1 Muharram 1448 H telah tiba. Tahun berganti, tapi luka umat Islam belum sembuh. Di dalam negeri masalah bertumpuk. Di luar negeri, darah Muslim masih mengalir. Muharram datang bukan hanya untuk ganti kalender, tapi sebagai tamparan: sudah saatnya umat bangkit dan kembali pada Islam kaffah.

Fakta Pahit yang Membelit Umat hari ini

Kenestapaan dalam negeri, Sepanjang tahun rakyat dicekik berbagai masalah: kemiskinan struktural yang tak kunjung selesai, judi online menjerat generasi, prostitusi anak, kasus bullying di sekolah, eksploitasi seksual, hingga kekerasan yang makin merajalela. Angka naik, solusi yang diberikan hanya tambal-sulam.

Genosida Palestina terus berlanjut , di panggung internasional, genosida di Gaza terus berlangsung. Umat Islam di sana dibiarkan mati kelaparan, dibombardir, diusir dari tanahnya. Sementara penguasa negeri-negeri Muslim diam, tidak menggerakkan pasukan untuk membela. Batas negara jadi tembok yang memisahkan.

Jauh dari predikat Khairu Ummah. 1 Muharram 1448 H tiba, tapi kondisi umat masih jauh dari predikat khairu ummah yang disebut Allah: umat terbaik yang menyuruh ma’ruf dan mencegah mungkar. QS. Ali Imran: 110. Realitanya, kemungkaran justru merajalela tanpa ada yang menghentikan.

Di Mana Akar Masalahnya?

Buah Sekularisme-Kapitalisme

Seluruh kerusakan dalam negeri adalah buah dari penerapan sistem Sekularisme-Kapitalisme. Saat standar halal-haram dicopot, lalu diganti standar manfaat materi dan untung-rugi, kerusakan jadi merata. Agama dipisah dari urusan negara, hasilnya: hukum berpihak pada pemilik modal, moral generasi hancur, keluarga retak.

Umat lemah karena tercerai-berai

Lemahnya umat Islam di panggung internasional, termasuk ketidakmampuan membela Palestina, terjadi karena tidak adanya institusi Khilafah yang menyatukan dan melindungi umat. Umat Islam terpecah oleh sekat nasionalisme buatan penjajah. Negara-negara Muslim berdiri sendiri-sendiri dan tunduk pada tekanan kekuatan kafir. Tanpa junnah/pelindung, umat jadi seperti buih di lautan.

Muharram Seruan untuk Hijrah Hakiki

Muharram = Momentum Muhasabah

Muharram adalah momentum refleksi. Semua kenestapaan ini bukan takdir yang harus pasrah diterima. Tapi akibat jauhnya umat dari aturan Allah SWT sebagai pencipta sekaligus pengatur. Allah berfirman: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia” QS. Ar-Rum: 41. Solusinya bukan revisi UU, tapi kembali pada syariat.

Hijrah Hakiki: Pindah Sistem

Hijrah yang diajarkan Rasulullah ﷺ bukan sekadar pindah tempat. Hijrah hakiki adalah berjuang pindah dari sistem kufur Sekularisme-Kapitalisme menuju sistem Islam dalam naungan Daulah Khilafah. Dari hukum buatan manusia menuju hukum Allah. Dari perpecahan menuju persatuan.

Butuh Perjuangan Terorganisir

Rasulullah ﷺ mengajarkan: perubahan hakiki tidak terjadi instan. Beliau dan para sahabat menempuh perjuangan panjang, bertahap, dan terorganisir di Makkah 13 tahun, lalu tegak Daulah Islam di Madinah. Sunnah ini harus diikuti. Emosi sesaat tanpa metode akan padam.

Wajib Berjuang Bersama Jamaah Dakwah

Karena itu, umat Islam wajib berjuang bersama jamaah dakwah Islam ideologis yang mengambil metode dakwah Rasulullah ﷺ: membina umat, mencerdaskan, dan menuntut tegaknya Khilafah. Berjuang sendiri-sendiri lemah, berjuang bersama jamaah itulah kekuatan.

Wahai umat Islam, Muharram mengingatkan kita pada hijrah Rasulullah ﷺ. Beliau tidak terima kondisi jahiliyah terus berlangsung. Beliau bangkit dan mengubahnya dengan Islam. Hari ini giliran kita. Jangan biarkan Muharram 1448 H lewat tanpa tekad: bangkit, bersatu, dan berjuang tegakkan Islam kaffah dalam Khilafah. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” QS. Ar-Ra’d: 11.

Komentar