UGM Dorong Hipnoterapi Jadi Ilmu Kredibel Berbasis Sains

Kesehatan, Sains78 Dilihat

Yogyakarta (Riaunews.com) – Universitas Gadjah Mada (UGM) mendorong hipnoterapi menjadi ilmu yang kredibel dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah melalui kolaborasi dengan Indonesian Hypnosis Centre (IHC). Upaya ini diwujudkan melalui Pelatihan Sertifikasi Transpersonal Clinical Hypnotherapy yang diikuti 100 peserta pada Sabtu (28/3/2026).

Program ini menjadi bagian dari langkah strategis untuk mengubah stigma masyarakat yang selama ini memandang hipnosis sebagai hal mistis atau sekadar hiburan. UGM menghadirkan pendekatan akademis yang terukur agar hipnoterapi dapat diterima sebagai metode kesehatan mental berbasis sains.

Pelatihan yang berlangsung dari Februari hingga Mei 2026 di Fakultas Psikologi UGM ini juga terintegrasi dengan riset disertasi mahasiswa doktor. Seluruh prosesnya berada dalam pengawasan ilmiah yang ketat guna memastikan validitas metode yang digunakan.

Tekankan Pendekatan Ilmiah

Guru Besar Fakultas Psikologi UGM, Prof. dr. Kwartarini Wahyu Yuniarti, menegaskan bahwa pendekatan ilmiah menjadi kunci utama dalam membangun kepercayaan publik terhadap hipnoterapi. Ia menyebut clinical hypnosis harus dipahami sebagai ilmu yang dapat diuji dan dipertanggungjawabkan.

Menurutnya, penguatan basis akademik penting agar hipnoterapi tidak lagi dikaitkan dengan praktik non-ilmiah, melainkan menjadi bagian dari pendekatan kesehatan mental modern.

Buka Peluang di Dunia Medis

Selain mendorong legitimasi keilmuan, hipnoterapi juga mulai diuji efektivitasnya dalam penanganan berbagai kondisi medis seperti nyeri kronis, diabetes, hingga kanker. Data awal menunjukkan tingkat keberhasilan mencapai 93 persen dalam enam sesi terapi.

Direktur IHC, Avifi Arka, menilai kolaborasi ini menjadi langkah penting untuk memperkuat posisi hipnoterapi sebagai profesi yang diakui. Ia berharap dukungan pemerintah dan institusi akademik dapat mempercepat pengembangan metode kesehatan mental yang lebih holistik, modern, dan berbasis sains di Indonesia.

Komentar