Pakar UGM Peringatkan Bahaya Ketergantungan pada AI

Gadget, Lifestyle143 Dilihat

Yogyakarta (Riaunews.com) – Penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini semakin melekat dalam kehidupan generasi muda, terutama Generasi Z. Mulai dari mengerjakan tugas kuliah hingga mencari inspirasi kreatif, AI menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian mereka. Namun, di balik manfaatnya, pakar menilai ada ancaman tersembunyi jika teknologi ini digunakan secara berlebihan.

Guru Besar Rekayasa Perangkat Lunak Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Ridi Ferdiana, mengingatkan munculnya fenomena “DDA” atau dikit-dikit AI di kalangan anak muda. Fenomena ini menggambarkan kebiasaan generasi muda yang terlalu bergantung pada AI hingga menurunkan kemampuan berpikir kritis dan daya ingat.

Critical thinking dan kemampuan memorize jadi menurun. Efek paling berbahaya adalah brain rot, karena mereka jadi malas berpikir dan apa-apa langsung bertanya ke AI,” ujar Ridi dalam keterangan resminya, dikutip Jumat (7/11/2025).

Menurut Ridi, AI telah menjadi bagian dari gaya hidup digital Generasi Z. Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2025 menunjukkan bahwa generasi Z mendominasi penggunaan AI di Indonesia dengan angka 43,7 persen, disusul generasi milenial sebesar 22,3 persen.

Meski demikian, Ridi menekankan bahwa AI tidak sepenuhnya buruk. Teknologi ini dapat membantu memahami konsep, menganalisis informasi, hingga meningkatkan kreativitas jika digunakan secara bijak. “Generasi Z lahir sebagai digital native. Generative AI sekarang menjadi disrupsi besar yang mengubah cara mereka berpikir dan hidup,” jelasnya.

Sebagai solusi, Ridi menyarankan penerapan konsep ERA (Essential, Rating, Applicable). Artinya, pengguna perlu mencari pengetahuan dasar dari sumber ilmiah (Essential), menilai dan berpikir kritis sebelum meminta opini AI (Rating), dan baru menggunakan AI untuk penerapan praktis (Applicable).

“AI seharusnya jadi partner, bukan pengganti manusia. Kalau prinsip ERA ini dijalankan, maka penggunaan AI bisa tetap produktif tanpa menggerus kemampuan berpikir,” pungkasnya.

Komentar