Bengkalis (Riaunews.com) – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Pedekik, Kecamatan Bengkalis, kian mengkhawatirkan setelah memasuki hari kelima. Api terus menjalar dan mulai merambah perkebunan karet serta sawit milik warga.
Seorang warga, Agus Supeno, mengatakan upaya pemadaman dilakukan secara swadaya bersama petugas. Warga bahkan harus berjaga hingga dini hari untuk mencegah api meluas.
“Kalau tidak dijaga 24 jam, api bisa terus membakar karena ini kawasan ekonomi masyarakat,” ujarnya, Jumat (27/3/2026).
Terkendala Air dan Angin
Pemadaman dilakukan menggunakan mesin robin serta peralatan dari BPBD Kabupaten Bengkalis dan pihak perusahaan. Namun, keterbatasan sumber air dan angin kencang menjadi kendala utama di lapangan.
Warga juga mulai dibantu alat berat untuk membuat embung sebagai sumber air tambahan, meski upaya tersebut belum maksimal karena luasnya area terdampak.
Luas lahan yang terbakar diperkirakan telah mencapai lebih dari 30 hektare. Kebakaran diduga mulai terjadi sejak 27 Ramadan dan semakin meluas sejak hari kedua Idulfitri.
“Semalam api masih menyala, kami berjaga sampai subuh,” kata Agus.
Dampak Ekonomi Warga
Kebakaran ini berdampak langsung pada perekonomian masyarakat, mengingat sebagian besar warga menggantungkan hidup dari kebun karet dan sawit.
Meski petugas BPBD turut membantu, kehadiran di lapangan terbatas pada jam kerja. Namun, peralatan tetap dipinjamkan agar warga bisa melanjutkan pemadaman secara mandiri selama 24 jam.
Sementara itu, pihak BPBD Bengkalis memastikan upaya pemadaman dan pendinginan terus dimaksimalkan di sejumlah titik karhutla yang muncul akibat kondisi cuaca panas.







Komentar