Jakarta (Riaunews.com) – Kementerian Perhubungan menilai penerapan buffer zone efektif dalam mengurai kemacetan, khususnya di kawasan penyeberangan selama periode arus balik Lebaran 2026.
Ketua Harian Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2026, Hasan Sadili, mengatakan strategi ini menjadi salah satu fokus utama untuk mengantisipasi kepadatan kendaraan menuju pelabuhan.
Fokus di Pelabuhan Penyeberangan
Menurut Hasan, pengalaman mudik sebelumnya menunjukkan titik paling krusial berada di jalur penyeberangan. Karena itu, buffer zone digunakan untuk menahan dan mengatur kendaraan sebelum memasuki area pelabuhan.
Kemenhub juga menerapkan delaying system guna mengendalikan arus kendaraan, serta meningkatkan kapasitas rest area dan pelabuhan bantuan.
Sejumlah pelabuhan tambahan disiapkan untuk mendukung kelancaran arus, seperti Pelabuhan Ciwandan dan Bandar Bakau Jaya pada lintasan Pelabuhan Merak – Pelabuhan Bakauheni.
Digitalisasi dan Skema TBB
Selain itu, Kemenhub mendorong digitalisasi pembelian tiket di seluruh moda transportasi agar masyarakat dapat memesan lebih awal dan mengurangi antrean di lapangan.
Strategi lain yang diterapkan adalah skema tiba-bongkar-berangkat (TBB) pada kapal penyeberangan. Melalui skema ini, kapal yang telah menurunkan penumpang dan kendaraan akan langsung berangkat kembali tanpa proses muat ulang.
Penyamaan Kelas Layanan
Sebagai bagian dari evaluasi, Kemenhub juga menerapkan penyamaan kelas layanan penyeberangan. Kebijakan ini memungkinkan seluruh kendaraan langsung menuju kapal yang tersedia tanpa harus memilih kelas tertentu.
Langkah tersebut dinilai mampu mengurangi kepadatan di pelabuhan serta mempercepat arus kendaraan selama periode arus balik Lebaran berlangsung.







Komentar