Dosen UWM: THR Bisa Jadi Momentum Tingkatkan Literasi Keuangan

Yogyakarta (Riaunews.com) – Tunjangan Hari Raya (THR) tidak seharusnya hanya dipandang sebagai uang tambahan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi saat Lebaran. Dosen Program Studi Kewirausahaan Fakultas Ekonomi Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta, Dr. Bhenu Artha, S.E., M.M., menilai THR justru dapat menjadi momentum penting untuk meningkatkan literasi keuangan masyarakat.

Menurut Bhenu, kebiasaan menghabiskan THR untuk belanja kebutuhan Lebaran tanpa perencanaan kerap membuat dana tersebut habis dalam waktu singkat. Padahal, jika dikelola dengan baik, THR dapat menjadi sarana untuk melatih kedewasaan finansial serta membangun kebiasaan pengelolaan keuangan yang lebih sehat.

“THR seharusnya tidak hanya dilihat sebagai uang Lebaran yang habis untuk konsumsi, tetapi juga sebagai kesempatan untuk belajar mengatur keuangan secara lebih bijak,” ujarnya.

Ia menjelaskan, langkah pertama dalam memanfaatkan THR secara tepat adalah dengan mengalokasikannya ke beberapa kebutuhan prioritas. Pos pengeluaran seperti zakat, biaya mudik, dan kebutuhan perayaan Lebaran bersama keluarga perlu direncanakan sejak awal agar penggunaan dana menjadi lebih terarah.

Menurutnya, perencanaan anggaran yang jelas dapat membantu masyarakat menghindari pengeluaran yang tidak perlu. Dengan demikian, dana THR tidak mudah habis untuk belanja impulsif yang sering terjadi menjelang hari raya.

Bhenu juga menyarankan agar sisa dana THR, sekecil apa pun jumlahnya, dialihkan ke tabungan atau instrumen investasi sederhana. Ia menilai kebiasaan menyisihkan sebagian dana merupakan langkah awal yang penting dalam membangun perencanaan keuangan jangka panjang.

“Bukan soal besar kecilnya nominal yang disimpan, tetapi kebiasaan mengelola uang secara disiplin yang perlu dibangun,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menyoroti fenomena meningkatnya perilaku konsumtif masyarakat menjelang Lebaran. Tradisi membeli pakaian baru, berbagai kebutuhan rumah tangga, hingga hidangan khas Lebaran sering kali mendorong masyarakat untuk berbelanja secara berlebihan.

Menurut Bhenu, perilaku tersebut dapat menggerus nilai THR jika tidak disertai kontrol diri yang baik. Karena itu, ia menyarankan masyarakat untuk membuat daftar belanja yang realistis dan memprioritaskan kebutuhan yang benar-benar penting.

Selain itu, bagi masyarakat dengan pendapatan yang tidak tetap, THR juga dapat dimanfaatkan sebagai dana cadangan untuk kebutuhan di bulan-bulan berikutnya. Dana tersebut dapat menjadi penopang ketika pendapatan sedang menurun atau tidak stabil.

Ia menilai pengelolaan THR yang bijak tidak hanya berdampak pada kondisi keuangan individu, tetapi juga dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan literasi keuangan masyarakat secara lebih luas.

“Jika masyarakat mampu memanfaatkan THR secara bijak, manfaatnya tidak hanya dirasakan saat Lebaran, tetapi juga dalam menjaga stabilitas keuangan di masa depan,” katanya.

Komentar