Jakarta (Riaunews.com) – Kesehatan mental anak menjadi bagian penting dalam proses tumbuh kembang yang kerap luput dari perhatian. Kondisi psikologis yang stabil dinilai berperan besar dalam mendukung perkembangan emosi, sosial, dan kemampuan berpikir anak secara optimal.
Sebaliknya, gangguan mental yang tidak terdeteksi sejak dini dapat berdampak panjang terhadap kualitas hidup anak. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat sebanyak 115 kasus anak mengakhiri hidupnya sepanjang 2023 hingga 2025, dengan rentang usia dari jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah atas di berbagai daerah.
Data tersebut menjadi alarm serius bagi keluarga dan lingkungan sekitar anak di Indonesia. Tekanan ekonomi, perundungan, hingga persoalan psikologis disebut sebagai faktor pemicu yang beragam dalam kasus-kasus tersebut.
Merujuk informasi dari Charitas Hospital, terdapat sejumlah tanda tekanan kesehatan mental pada anak yang perlu diwaspadai, di antaranya perubahan perilaku secara tiba-tiba, kesulitan mengelola stres, gangguan pola tidur, serta perubahan nafsu makan yang tidak wajar.
Selain itu, anak juga dapat menunjukkan kesulitan berinteraksi dengan teman sebaya, cenderung menyendiri, kehilangan minat pada aktivitas yang disukai, hingga mengalami perubahan emosi yang ekstrem. Keluhan fisik tanpa sebab medis yang jelas, perilaku melukai diri sendiri, serta munculnya perasaan tidak berharga atau rasa bersalah berlebihan juga menjadi sinyal serius yang tidak boleh diabaikan.
Orang tua diimbau untuk segera mengambil langkah pencegahan dan penanganan sejak dini dengan membangun komunikasi terbuka, mencari bantuan profesional bila diperlukan, menciptakan lingkungan yang mendukung, serta mendorong anak terlibat dalam aktivitas positif guna menjaga kestabilan emosinya.







Komentar