Pekanbaru (Riaunews.com) – Dinas Kesehatan (Diskes) Provinsi Riau mencatat kasus malaria di wilayahnya telah mencapai 238 kasus hingga Februari 2026. Lonjakan kasus ini terjadi seiring peralihan musim menuju kemarau yang berpotensi meningkatkan risiko penularan penyakit berbasis lingkungan.
Kepala Diskes Riau, Zulkifli, menyebutkan mayoritas kasus berasal dari Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) dengan 232 kasus. Sementara itu, Kota Pekanbaru tercatat 4 kasus, serta masing-masing 1 kasus di Kabupaten Kepulauan Meranti dan Indragiri Hilir.
Menurut Zulkifli, tingginya angka kasus tersebut membuat Rohil masih berstatus Kejadian Luar Biasa (KLB) malaria. Pemerintah daerah setempat bahkan telah menetapkan perpanjangan status tanggap darurat untuk kesembilan kalinya guna mempercepat penanganan.
Diskes Riau mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu langkah pencegahan yang ditekankan adalah gerakan 3M, yakni menguras, menutup, dan mengubur tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.
Selain itu, masyarakat juga diminta menjaga kebersihan lingkungan, rutin mencuci tangan dengan sabun, mengonsumsi makanan bergizi, serta menjaga daya tahan tubuh. Upaya pencegahan ini dinilai penting untuk menekan penyebaran malaria dan melindungi kesehatan masyarakat secara luas.







Komentar