Pekanbaru (Riaunews.com) – Aturan teknis di MotoGP dinilai kurang menguntungkan pembalap bertubuh tinggi dan berbobot lebih berat. Berbeda dengan Moto2, Moto3, dan Kejuaraan Dunia Superbike (WSBK) yang menerapkan berat minimum gabungan motor dan pembalap, MotoGP tidak memiliki mekanisme penyeimbang tersebut.
Di MotoGP, regulasi hanya mengatur bobot minimum motor prototipe sebesar 157 kilogram tanpa mempertimbangkan berat badan pembalap. Akibatnya, perbedaan bobot antara pembalap ringan dan berat tidak disamakan, sehingga pembalap bertubuh tinggi cenderung mengalami kerugian kompetitif.
Kondisi ini berbeda dengan Moto2 dan Moto3 yang menetapkan berat minimum gabungan motor dan pembalap masing-masing 217 kilogram dan 152 kilogram. Aturan tersebut bertujuan menjaga persaingan tetap seimbang dengan mengurangi keuntungan pembalap bertubuh ringan.
WSBK bahkan menerapkan sistem koreksi berat pembalap dengan nilai referensi 80 kilogram, termasuk perlengkapan. Pembalap yang lebih ringan harus menambah pemberat pada motor, sehingga performa lebih setara di lintasan.
Di MotoGP, ketiadaan aturan serupa membuat pembalap bertubuh tinggi harus lebih ketat menjaga berat badan. Mantan juara dunia MotoGP, Jorge Martin, mengakui pembalap dengan berat di atas 70 kilogram menghadapi masalah tersendiri dalam persaingan.
Martin menegaskan, meski semua pembalap berusaha menjaga kebugaran dan daya tahan, keseimbangan antara kekuatan fisik dan bobot tubuh menjadi tantangan besar. Kondisi ini membuat pembalap bertubuh tinggi relatif kurang diuntungkan dibandingkan rekan-rekan mereka yang lebih ringan.







Komentar