Jakarta (Riaunews.com) – Penjualan mobil nasional sepanjang 2025 diperkirakan tidak akan mencapai 800 ribu unit. Pelemahan pasar ini dinilai sebagai akumulasi berbagai tekanan yang datang bersamaan dan saling memengaruhi kinerja industri otomotif.
Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Putu Juli Ardika mengatakan kondisi ekonomi menjadi faktor awal yang paling dirasakan. Melemahnya daya beli masyarakat membuat keputusan pembelian kendaraan baru tertahan. “Kalau nanya faktor utamanya, itu memang banyak sekali faktor-faktornya. Yang pertama itu mungkin keadaan ekonomi,” ujarnya kepada CNBC Indonesia, dikutip Sabtu (3/1/2026).
Selain ekonomi, sektor pembiayaan juga menjadi penekan utama. Putu menjelaskan, lebih dari 70 persen pembelian kendaraan bermotor di Indonesia dilakukan melalui kredit, sehingga industri sangat sensitif terhadap kondisi dan kebijakan lembaga pembiayaan. “Kalau pembiayaan ada permasalahan atau kurang kondusif, itu berdampak sekali,” katanya.
Tekanan lain datang dari kebijakan daerah, khususnya implementasi opsen pajak. Kebijakan ini dinilai menambah beban konsumen karena meningkatkan pajak pembelian kendaraan hingga jutaan rupiah, sehingga berpotensi menahan minat beli masyarakat. “Yang juga sedikit mengkhawatirkan adalah implementasi opsen di daerah,” ujar Putu.
Di luar faktor ekonomi dan kebijakan, Gaikindo juga menyoroti persoalan teknis di lapangan, seperti masuknya kendaraan impor tertentu yang tidak sepenuhnya mengikuti aturan homologasi. Menurut Putu, praktik tersebut dapat mengganggu ekosistem industri otomotif nasional.
Kombinasi tekanan ekonomi, pembiayaan, kebijakan pajak, dan persoalan teknis membuat pasar otomotif 2025 bergerak lebih berat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Industri berharap ada perbaikan iklim ekonomi, dukungan pembiayaan, serta kebijakan yang lebih kondusif agar pasar kembali bergairah.







Komentar