Jakarta (Riaunews.com) – Pelaku industri alas kaki nasional menilai tarif resiprokal ekspor ke Amerika Serikat (AS) sebesar 19 persen masih terlalu memberatkan. Asosiasi Persepatuan Indonesia (APRISINDO) mendorong pemerintah agar tarif tersebut bisa ditekan hingga 0 persen atau setidaknya jauh lebih rendah dibandingkan negara pesaing.
Direktur Eksekutif APRISINDO Yoseph Billie Dosiwoda mengapresiasi langkah pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dalam negosiasi tarif dengan AS. Namun, ia menegaskan perjuangan untuk sektor manufaktur padat karya, khususnya industri alas kaki, harus terus dilanjutkan.
Menurut Yoseph, tarif 19 persen membuat produk alas kaki Indonesia kalah bersaing dengan negara lain seperti Vietnam, Kamboja, Pakistan, Bangladesh, India, hingga China. Ia menyebut tarif tersebut sudah berlaku sejak 7 Agustus 2025, naik dari sebelumnya 10 persen, dan sempat diwacanakan meningkat hingga 32 persen.
Tekanan akibat tarif tinggi tercermin pada kinerja ekspor. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor alas kaki Indonesia ke AS pada Agustus hingga September 2025 tercatat turun 23,14 persen. APRISINDO menilai penurunan tersebut berkaitan langsung dengan melemahnya pesanan dari pasar AS akibat kenaikan tarif masuk.
Yoseph mengingatkan, penurunan pesanan berpotensi berdampak pada produktivitas dan tenaga kerja. Ia menilai risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) menjadi nyata, terlebih industri alas kaki merupakan sektor padat karya dengan lebih dari 960 ribu tenaga kerja yang bergantung pada keberlanjutan ekspor.
Selain tarif, APRISINDO juga menyoroti tingginya biaya produksi di dalam negeri, mulai dari upah, listrik, gas, impor bahan baku, hingga pajak dan perizinan. Dengan kondisi tersebut, APRISINDO berharap pemerintah dapat menurunkan tarif ekspor ke AS agar industri alas kaki tetap kompetitif dan mampu menjaga pertumbuhan serta penyerapan tenaga kerja nasional.







Komentar